Setelah Kunjungi Luar Angkasa, Cacing Ini Tumbuh Kepala Kedua

Setelah Kunjungi Luar Angkasa, Cacing Ini Tumbuh Kepala Kedua

(Foto: Tufts University)

CALIFORNIA - Terdapat banyak hal aneh ditemukan di luar angkasa, namun cacing pipih yang dikirim ke International Space Station (ISS) menyimpan sesuatu yang benar-benar aneh saat mereka kembali ke Bumi.

Cacing planarian flatworms acap kali digunakan dalam studi biologi karena kemampuan mengesankan mereka untuk meregenerasi bagian tubuh mereka setelah amputasi. Satu set termasuk cacing utuh dan amputasi dikirim ke ISS selama lima minggu dan kemudian dievaluasi kembali ke Bumi selama 20 bulan.

Dilaporkan Cnet, Selasa (13/6/2017) salah satu cacing angkasa yang diregenerasikan menjadi spesimen langka berkepala dua. Peneliti yang menjalankan eksperimen dari Tufts University mengatakan bahwa mereka tak pernah melihat dalam 18 tahun mereka mempertahankan koloni lebih dari 15.000 cacing pipih.

Akan tetapi, ini baru awal dari keanehan. Ketika para peneliti mengamputasi kepala dari cacing berkepala kembar yang baru, bagian tengah tanpa kepala tumbuh dua kepala.

Dengan kata lain, sesuatu yang terjadi setelah cacing tersebut diluncurkan ke luar angkasa menyebabkan tubuhnya “diprogram ulang" untuk menganggap dirinya sebagai spesies baru berkepala dua.

Cacing yang meninggalkan Bumi juga melakukan hal aneh termasuk secara spontan membelah menjadi dua atau lebih. Para ilmuwan mencatat, bagaimanapun ini bisa menjadi akibat dari suhu yang berbeda yang dialami cacing selama perjalana antariksa mereka.

Sebuah studi yang merinci perjalanan panjang dan aneh cacing tersebut akan muncul pada Selasa di jurnal Regeneration. Percobaan sebenarnya bukan tentang penggunaan ruang untuk menggandakan produksi dengan cepat dalam industri fishing-bait. Sebaliknya, ini bisa membantu masa depan perjalanan ruang angkasa janga panjang.

"Sebagai transisi manusia menuju menjadi spesies yang memiliki banyak ruang, penting bagi kita untuk menyimpulkan dampak penerbangan luar angkasa terhadap kesehatan regeneratif demi pengobatan dan masa depan penelitian laboratorium antariksa," kata Junji Morokuma, penulis utama studi tersebut dalam sebuah pernyataan.

(din)

Baca Juga

Luar Biasa! Pesawat Juno Milik NASA Tangkap Badai Terbesar di Tata Surya

Luar Biasa! Pesawat Juno Milik NASA Tangkap Badai Terbesar di Tata Surya