Peneliti Ini Gabungkan Instagram dengan Kecerdasan Buatan

Peneliti Ini Gabungkan Instagram dengan Kecerdasan Buatan

(Foto: Gadget Snow)

JAKARTA – Instagram merupakan media sosial yang membuat penggunanya dapat menyematkan foto seperti memiliki album pribadi secara online. Selain itu, Instagram juga memiliki fitur-fitur lainnya yang tidak kalah menarik. Namun, di tangan para peneliti Cornell University, Instagram dijadikan bahan dalam pengembangan sebuah program kecerdasan buatan atau biasa dikatakan artificial intelligence (AI) untuk menganalisis gambar, sehingga dapat menemukan tren budaya berpakaian dari seluruh penjuru dunia.

Dilansir Digital Trends, Senin (19/6/2017), para peneliti ini menggunakan beberapa foto, data lokasi, dan komputer. Kelompok ini bekerja dengan Instagram dan mengunduh gambar dalam beberapa kerangka waktu antara 2013-2016, dari sekira 44 kota di seluruh dunia. Parameter pencarian tersebut menghasilkan sekira 100 juta foto Instagram untuk dianalisis.

Kelompok peneliti yang dipimpin oleh Kevin Matzen, Kavita Bala, dan Noah Snavely, memutuskan untuk melihat secara khusus tren mode berdasarkan waktu dan lokasi. Untuk menghilangkan semua foto yang tak terkait, kelompok ini pertama kali menggunakan teknologi pengenal wajah. Kemudian mereka memfilter hasilnya untuk memasukkan foto yang termasuk bagian atas tubuh.

Dengan pemilihan foto yang lebih sedikit, tim mengembangkan program pengenal objek yang mengenali benda yang dipakai seperti menentukan jaket dari sweater dan syal dari dasi. Program ini juga mempelajari sejumlah deskriptor, seperti panjang lengan, warna, dan pola populer.

Begitu gambar ini ditandai, kelompok tersebut memasukkan data melalui program lain yang dirancang untuk mengenali pola yang tak ada dalam pakaian, namun ada dalam data, mengeluarkan informasi tentang benda-benda yang dipakai atau dipasangkan dengan benda lain, serta tren populer dan asal daerah tren yang populer tersebut. Selain itu, program ini juga mengenali bagaimana tren berubah selama periode tiga tahun.

Kelompok ini menemukan keanehan seperti orang kulit hitam dan coklat yang bermunculan lebih sering selama musim dingin, sementara orang putih dan biru menyukai musim panas.

Sistem ini masih dirancang untuk mengenali tren mode, namun teknologinya memiliki implikasi untuk penelitian masa depan yang menganalisis data antropologi di area yang luas dan kerangka waktu yang luas hanya dengan beberapa foto dan pemrograman.

“Bayangkan seorang antropolog masa depan memiliki akses ke triliunan foto orang-orang yang diambil berabad-abad dan di seluruh dunia, dilengkapi dengan alat yang efektif untuk menganalisis foto-foto ini untuk mendapatkan wawasan,” tulis tim tersebut. 

"Pertanyaan macam apa yang bisa dijawab? Area masalah penemuan visual berbasis data ini masih baru, namun mulai mendapat perhatian dalam visi dan grafis komputer," ujarnya.

(kem)

Baca Juga

Mantap! Modal Plastik, Buruh Pabrik Ini Miliki Harta Rp453 Triliun

Mantap! Modal Plastik, Buruh Pabrik Ini Miliki Harta Rp453 Triliun