Ya Ampun! 4 Penemuan Ini Picu Perdebatan Keberadaan Manusia Kuno

Ya Ampun! 4 Penemuan Ini Picu Perdebatan Keberadaan Manusia Kuno

(Foto: Reuters)

JAKARTA - Kehidupan manusia purba tetap menjadi kehidupan yang menarik. Guna membantu mengumpulkan budaya, perilaku, dan asal usul yang telah punah, para ahli menggunakan dua alat yang terkadang memprovokasi lebih banyak perdebatan yakni bukti fisik dan teori.

Debat ilmiah bisa menjadi sangat panas sehingga hanya penemuan baru yang bisa memecahkan kebuntuan itu. Namun, terkadang terobosan baru justru bisa menambahkan bahan perdebatan, seperti beberapa penemuan berikut ini yang dikutip Okezone dari Listverse, Jumat (11/8/2017).

Leluhur Hobbit

Ketika spesies manusia miniatur ditemukan pada 2003, Homo floresiensis dengan cepat mendapatkan julukan ‘Hobbit’. Mereka berada di Pulau Flores di Indonesia sekira 54.000 tahun yang lalu dan siapa yang datang sebelum mereka tetap menjadi perdebatan yang sengit antar-antropolog.

Pada 2010, sebuah penelitian mencoba untuk mengonfirmasi atau menghancurkan kepercayaan utama bahwa mereka berevolusi dari Homo erectus yang lebih besar. Peneliti sebelumnya hanya meneliti tengkorak dan rahang hobbit.

Lantaran Homo erectus merupakan satu-satunya hominid awal lainnya yang ditemukan di daerah itu, asumsi leluhur mulai tumbuh. Penelitian 2010 juga meneliti anggota badan, bahu, dan gigi. Apa yang mereka temukan itu aneh. Evolusi memindahkan spesies ke depan, namun Homo floresiensis lebih primitif dibandingkan nenek moyang yang seharusnya.

Keduanya juga sama sekali tak menghubungkan pohon keluarga dengan baik. Sebaliknya, hobbit tersebut tampaknya merupakan spesies sudara dari Homo habilis, yang tinggal di Afrika pada 1,75 juta tahun yang lalu.

Ketika nenek moyang Homo floresiensis tetap tak dikenal, penelitian tersebut juga menemukan bahwa Homo floresiensis kemungkinan lebih tua dari Homo habilis, sehingga menjadikan Homo floresiensis sebagai salah satu jenis pertama manusia dalam cerita.

Manusia Dmanisi

Sebanyak 5 tengkorak berusia 1,8 juta tahun digali di situs Dmanisi di Georgia. Antropolog David Lordkipanidze menemukan tulang rahang pada 2000 dan tengkorak lima tahun kemudian.

Wajah, gigi, dan otak kecil menyerupai manusia purba sebelumnya. Otak ini cocok dengan Homo erectus yang lebih baru. Perdebatan berlanjur mengenai apakah Dmanisi tetap merupakan nenek moyang Homo erectus atau spesiesnya sendiri, Homo georgicus, namun Lordkipanidze dan timnya mencapai kesimpulan yang lebih kontroversial.

Setelah membandingkannya dengan lima tengkorak yang ditemukan di Dmanisi selama beberapa dekade, mereka percaya bahwa semua milik satu spesies yang menempati lokasi tersebut pada waktu yang berbeda selama ribuan tahun.

Menurut mereka, ini merupakan bukti keturunan tunggal yang kembali ke manusia pertama, Homo habilis, 2,4 juta tahun yang lalu dan kemudian diteruskan ke Homo erectus. Studi tersebut mengusulkan bahwa beberapa manusia purba, yang secara konvensional berbeda dari Homo erectus, bukanlah spesies mereka sendiri namun perubahan evolusioner.

1 / 2

Baca Juga

TOP TECHNO: Alien Berpotensi Temukan Bumi Gara-Gara Peta NASA hingga <i>Microgrid</i> Bakal Dukung Koloni Mars

TOP TECHNO: Alien Berpotensi Temukan Bumi Gara-Gara Peta NASA hingga Microgrid Bakal Dukung Koloni Mars