Luar Biasa! Peneliti Ini Temukan Tulang Manusia Berusia 15.000 Tahun

Luar Biasa! Peneliti Ini Temukan Tulang Manusia Berusia 15.000 Tahun

(Foto: Belle et al)

JAKARTA – Tulang manusia berusia 15.000 tahun ditemukan di Gua Gough di Inggris. Tulang tersebut diukir oleh nenek moyang manusia sebagai bagian dari ritual kanibal.

Peneliti percaya bahwa tulang tersebut merupakan bukti perilaku pemalsuan ritual yang kompleks oleh manusia purba yang tinggal di wilayah tersebut dan termasuk dalam budaya Magdalenian.

Budaya Magdalenian sendiri ada di Eropa antara sekira 12.000 hingga 17.000 tahun yang lalu. Tulang manusia yang patah dan memiliki tanda-tanda aneh biasanya ditemukan oleh para arkeolog di lokasi Magdalenia. Analisis dari tulang tersebut lebih sering mengungkap bukti kanibalisme.

Temuan ini jelas bagi peneliti, saat mereka melihat lebih dari 200 fragmen tulang yang ditemukan di dalam Gua Gough, yang diperkirakan berasal dari sekitar enam individu.

“Tulang manusia yang ditemukan di gua ini menunjukkan bukti yang cukup jelas tentang bekas luka yang dihasilkan oleh alat-alat berbatu, yang mengidikasikan adanya skinning dan disarticulating. Ada juga jejak kerusakan persekusi, lekukan yang dihasilkan oleh palu batu yang dilakukan untuk mengekstrak sum-sum tulang, dan tanda kunyahan manusia. Sekira 60% tulang di gua memiliki jejak beberapa modifikasi ini,” kata Silvia Bello, Peneliti Calleva di Museum Natural History di London, kepada IBTimes Inggris.

Para ilmuwan berpikir bahwa praktik kanibalisme terjadi dalam konteks ritual. Orang tak saling memakan karena mereka lapar, ini jelas dari kenyataan bahwa mereka tak bisa membuka tengkorak untuk memulihkan jaringan otak.

Namun ada yang belum disepakati tentang apakah bekas potongan pada tulang yang dilakukan dengan sengaja sebagai bagian dari ritual atau hanya tanda pembantaian mereka.

Dalam sebuah studi yang kini diterbitkan di jurnal PLOS ONE, Bello dan rekan-rekannya menganalisis radius manusia yang tepat yang digali pada 1987 di gua. Tulang itu telah dimodifikasi dengan bekas luka, kerusakan perkusi, dan tanda gigi manusia, serta potongan zig-zag yang tidak biasa di satu sisi.

Mereka menyelidiki apakah pemotongan zig-zag ini disebabkan oleh ukiran tulang yang disengaja, yang mengukur dan membandingkan ciri-ciri artefak lain dari Prancis dan tulang lainnya, semuanya berasal dari periode yang sama.

Hasilnya menunjukkan bahwa tanda itu diukir dengan sengaja di tulang dan kemungkinan juga merupakan komponen tujuan dari ritual kanibalisme multitahap.

"Kita tidak bisa memahami arti ukiran itu, itu simbolis tapi kita tidak tahu apa yang mereka maksudkan. Yang kita percaya adalah bahwa inilah cara mereka membuang mayat, ini adalah bagian dari ritual penguburan orang-orang ini," jelas Bello.

“Ada bukti kanibalisme di tempat lain dan spesies lainnya, seperti Neanderthal, tapi kita belum bisa mengatakan bahwa mereka melakukan ini sebagai pilihan saat diperlukan atau apakah ini sebuah ritual. Gua Gough adalah gua pertama di mana kita melihat hubungan yang jelas antara kanibalisme dan ritual," terangnya.

Selanjutnya, peneliti ingin melakukan analisis DNA menggunakan tulang di dalam gua, untuk mengetahui lebih banyak bagaimana populasi ini terbentuk. Sementara mereka mengetahui bahwa individu dari usia yang berbeda hadir di dalam gua, mereka ingin mengetahui apakah kedua jenis kelamin terwakili, apakah ini adalah kelompok keluarga, atau juga kaitan antara perbedaan tulang.

Selain itu, peneliti ingin melihat situs Magdalenia lainnya untuk bukti lebih lanjut bahwa ritual penguburan kanibal ini dilakukan di dalam populasi ini. Demikian seperti dilansir IB Times, Jumat (11/8/2017). (Lnm).

JAKARTA – Tulang manusia berusia 15.000 tahun ditemukan di Gua Gough di Inggris. Tulang tersebut diukir oleh nenek moyang manusia sebagai bagian dari ritual kanibal.

Peneliti percaya bahwa tulang tersebut merupakan bukti perilaku pemalsuan ritual yang kompleks oleh manusia purba yang tinggal di wilayah tersebut dan termasuk dalam budaya Magdalenian.

Budaya Magdalenian sendiri ada di Eropa antara sekira 12.000 hingga 17.000 tahun yang lalu. Tulang manusia yang patah dan memiliki tanda-tanda aneh biasanya ditemukan oleh para arkeolog di lokasi Magdalenia. Analisis dari tulang tersebut lebih sering mengungkap bukti kanibalisme.

Temuan ini jelas bagi peneliti, saat mereka melihat lebih dari 200 fragmen tulang yang ditemukan di dalam Gua Gough, yang diperkirakan berasal dari sekitar enam individu.

“Tulang manusia yang ditemukan di gua ini menunjukkan bukti yang cukup jelas tentang bekas luka yang dihasilkan oleh alat-alat berbatu, yang mengidikasikan adanya skinning dan disarticulating. Ada juga jejak kerusakan persekusi, lekukan yang dihasilkan oleh palu batu yang dilakukan untuk mengekstrak sum-sum tulang, dan tanda kunyahan manusia. Sekira 60% tulang di gua memiliki jejak beberapa modifikasi ini,” kata Silvia Bello, Peneliti Calleva di Museum Natural History di London, kepada IBTimes Inggris.

Para ilmuwan berpikir bahwa praktik kanibalisme terjadi dalam konteks ritual. Orang tak saling memakan karena mereka lapar, ini jelas dari kenyataan bahwa mereka tak bisa membuka tengkorak untuk memulihkan jaringan otak.

Namun ada yang belum disepakati tentang apakah bekas potongan pada tulang yang dilakukan dengan sengaja sebagai bagian dari ritual atau hanya tanda pembantaian mereka.


Dalam sebuah studi yang kini diterbitkan di jurnal PLOS ONE, Bello dan rekan-rekannya menganalisis radius manusia yang tepat yang digali pada 1987 di gua. Tulang itu telah dimodifikasi dengan bekas luka, kerusakan perkusi, dan tanda gigi manusia, serta potongan zig-zag yang tidak biasa di satu sisi.


Mereka menyelidiki apakah pemotongan zig-zag ini disebabkan oleh ukiran tulang yang disengaja, yang mengukur dan membandingkan ciri-ciri artefak lain dari Prancis dan tulang lainnya, semuanya berasal dari periode yang sama.

Hasilnya menunjukkan bahwa tanda itu diukir dengan sengaja di tulang dan kemungkinan juga merupakan komponen tujuan dari ritual kanibalisme multitahap.

"Kita tidak bisa memahami arti ukiran itu, itu simbolis tapi kita tidak tahu apa yang mereka maksudkan. Yang kita percaya adalah bahwa inilah cara mereka membuang mayat, ini adalah bagian dari ritual penguburan orang-orang ini," jelas Bello.
“Ada bukti kanibalisme di tempat lain dan spesies lainnya, seperti Neanderthal, tapi kita belum bisa mengatakan bahwa mereka melakukan ini sebagai pilihan saat diperlukan atau apakah ini sebuah ritual. Gua Gough adalah gua pertama di mana kita melihat hubungan yang jelas antara kanibalisme dan ritual," terangnya.

Selanjutnya, peneliti ingin melakukan analisis DNA menggunakan tulang di dalam gua, untuk mengetahui lebih banyak bagaimana populasi ini terbentuk. Sementara mereka mengetahui bahwa individu dari usia yang berbeda hadir di dalam gua, mereka ingin mengetahui apakah kedua jenis kelamin terwakili, apakah ini adalah kelompok keluarga, atau juga kaitan antara perbedaan tulang.

Selain itu, peneliti ingin melihat situs Magdalenia lainnya untuk bukti lebih lanjut bahwa ritual penguburan kanibal ini dilakukan di dalam populasi ini. Demikian seperti dilansir IB Times, Jumat (11/8/2017). (Lnm).

JAKARTA – Tulang manusia berusia 15.000 tahun ditemukan di Gua Gough di Inggris. Tulang tersebut diukir oleh nenek moyang manusia sebagai bagian dari ritual kanibal.

Peneliti percaya bahwa tulang tersebut merupakan bukti perilaku pemalsuan ritual yang kompleks oleh manusia purba yang tinggal di wilayah tersebut dan termasuk dalam budaya Magdalenian.

Budaya Magdalenian sendiri ada di Eropa antara sekira 12.000 hingga 17.000 tahun yang lalu. Tulang manusia yang patah dan memiliki tanda-tanda aneh biasanya ditemukan oleh para arkeolog di lokasi Magdalenia. Analisis dari tulang tersebut lebih sering mengungkap bukti kanibalisme.

Temuan ini jelas bagi peneliti, saat mereka melihat lebih dari 200 fragmen tulang yang ditemukan di dalam Gua Gough, yang diperkirakan berasal dari sekitar enam individu.

“Tulang manusia yang ditemukan di gua ini menunjukkan bukti yang cukup jelas tentang bekas luka yang dihasilkan oleh alat-alat berbatu, yang mengidikasikan adanya skinning dan disarticulating. Ada juga jejak kerusakan persekusi, lekukan yang dihasilkan oleh palu batu yang dilakukan untuk mengekstrak sum-sum tulang, dan tanda kunyahan manusia. Sekira 60% tulang di gua memiliki jejak beberapa modifikasi ini,” kata Silvia Bello, Peneliti Calleva di Museum Natural History di London, kepada IBTimes Inggris.

Para ilmuwan berpikir bahwa praktik kanibalisme terjadi dalam konteks ritual. Orang tak saling memakan karena mereka lapar, ini jelas dari kenyataan bahwa mereka tak bisa membuka tengkorak untuk memulihkan jaringan otak.

Namun ada yang belum disepakati tentang apakah bekas potongan pada tulang yang dilakukan dengan sengaja sebagai bagian dari ritual atau hanya tanda pembantaian mereka.

Dalam sebuah studi yang kini diterbitkan di jurnal PLOS ONE, Bello dan rekan-rekannya menganalisis radius manusia yang tepat yang digali pada 1987 di gua. Tulang itu telah dimodifikasi dengan bekas luka, kerusakan perkusi, dan tanda gigi manusia, serta potongan zig-zag yang tidak biasa di satu sisi.

Mereka menyelidiki apakah pemotongan zig-zag ini disebabkan oleh ukiran tulang yang disengaja, yang mengukur dan membandingkan ciri-ciri artefak lain dari Prancis dan tulang lainnya, semuanya berasal dari periode yang sama.

Hasilnya menunjukkan bahwa tanda itu diukir dengan sengaja di tulang dan kemungkinan juga merupakan komponen tujuan dari ritual kanibalisme multitahap.

"Kita tidak bisa memahami arti ukiran itu, itu simbolis tapi kita tidak tahu apa yang mereka maksudkan. Yang kita percaya adalah bahwa inilah cara mereka membuang mayat, ini adalah bagian dari ritual penguburan orang-orang ini," jelas Bello.

“Ada bukti kanibalisme di tempat lain dan spesies lainnya, seperti Neanderthal, tapi kita belum bisa mengatakan bahwa mereka melakukan ini sebagai pilihan saat diperlukan atau apakah ini sebuah ritual. Gua Gough adalah gua pertama di mana kita melihat hubungan yang jelas antara kanibalisme dan ritual," terangnya.

Selanjutnya, peneliti ingin melakukan analisis DNA menggunakan tulang di dalam gua, untuk mengetahui lebih banyak bagaimana populasi ini terbentuk. Sementara mereka mengetahui bahwa individu dari usia yang berbeda hadir di dalam gua, mereka ingin mengetahui apakah kedua jenis kelamin terwakili, apakah ini adalah kelompok keluarga, atau juga kaitan antara perbedaan tulang.

Selain itu, peneliti ingin melihat situs Magdalenia lainnya untuk bukti lebih lanjut bahwa ritual penguburan kanibal ini dilakukan di dalam populasi ini. Demikian seperti dilansir IB Times, Jumat (11/8/2017). (Lnm).

(kem)

Baca Juga

TOP TECHNO: Alien Berpotensi Temukan Bumi Gara-Gara Peta NASA hingga <i>Microgrid</i> Bakal Dukung Koloni Mars

TOP TECHNO: Alien Berpotensi Temukan Bumi Gara-Gara Peta NASA hingga Microgrid Bakal Dukung Koloni Mars