70% Spesies Primata Indonesia Terancam Punah

Abdul Malik, Jurnalis · Minggu 23 Desember 2007 11:52 WIB
https: img.okezone.com content 2007 12 23 56 70012 5cFK4Yztuh.jpg

JAKARTA - Sebanyak 70 persen dari 40 spesies primata yang ada di Indonesia dalam status terancam punah. Pembalakan liar, penangkapan ilegal, konversi lahan hutan, serta faktor perubahan alam merupakan penyebabnya.

Total spesies primata di dunia sekira 200 jenis, 25 persennya atau 40 spesies berada di Indonesia. Namun sayangnya, menurut Kurator Mamalia Taman Margasatwa Ragunan Dedi Ruswandi hampir semua spesies primata di Indonesia berstatus terancam punah. Dari 40 spesies yang tercatat, belasan di antaranya merupakan spesies endemik. Di antaranya owa Jawa (hylobates moloch) yang ditemukan hidup di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kemudian, Bekantan Kalimantan juga berstatus spesies endemik hanya ditemukan di Pulau Kalimantan, 7 spesies endemik hidup di Sulawesi, 3 spesies hidup di Kepulauan Mentawai.

"Hingga saat ini belum ada sensus yang dilakukan secara serius untuk mengetahui berapa jumlah populasi primata sebenarnya yang ada di Indonesia. Yang jelas 70 persen di antara mereka sudah berstatus terancam punah, jika tidak segera dikonservasi mereka akan benar-benar punah," paparnya Dedi Ruswandi.

Kepunahan itu dipercepat dengan terputusnya habitat, sehingga mengakibatkan keanekaragaman habitat yang menurun. Selain itu, berbagai kegiatan perburuan liar mendapatkan bayi primata untuk dijadikan suvenir, kepemilikan ilegal, serta perdagangan primata mempercepat proses kepunahan. Memang langkah untuk mengonservasi hewan yang terbagai dalam dua kelompok besar yakni prosimian (primata primitif) dan anthropeida (primata dunia baru) ini masih menemui banyak kendala. Pengelompokan ini berdasarkan daerah penyebaran dan penemuannya.

Menurut Dedi, tidak hanya sensus spesies secara menyeluruh yang belum dilakukan di Indonesia, namun kepentingan konservasi masih dikalahkan kepentingan industri ekonomi. Akibatnya konservasi lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit atau tanaman lain semakin mengancam habitat ini.

Sebagai contoh, di Kalimantan yang dilakukan konservasi lahan hutan secara besar-besaran menjadi kebun sawit. Hutan yang sebelumnya menjadi lokasi hidup orang utan Kalimantan tak pelak telah berubah. Jika sudah begini, bukan saja primata menjadi tersingkir namun hewan yang konon menurut teori Darwin merupakan moyang manusia itupun dianggap sebagai musuh manusia. Sebab, orang utan sering turun ke perkebunan dan merusak lahan kelapa sawit sehingga dia dianggap sebagai hama. Jika sudah begini keadaannya tidak jarang, orang utan tak berdosa itu akhirnya harus dibunuh secara kejam oleh ambisi manusia agar lahan sawitnya tidak terganggu.

"Karena tempat habitatnya sudah dikonversi, akhirnya seolah terjadi perebutan lahan. Orang utan dan manusia sama-sama berebut lahan mencari makan. Seharusnya, untuk lahan-lahan tertentu yang didiami spesies hewan terutama yang bersifat endemik itu memang tidak boleh dikonversi. Bahkan masyarakat setempat saja masih memiliki kearifan budaya lokal dalam memanfaatkan hutan," paparnya.

Tercatat spesies primata yang telah dikonservasi ke Taman Margasatwa Ragunan total sebanyak 28 jenis spesies jumlah populasi 367 ekor. Sebanyaak 22 jenis spesies di antaranya ditempatkan di Pusat Primata Schmutzer, dengan total populasi sebanyak 125 ekor. Di antaranya, lemur hitam (3 ekor), malu-malu (6), tarsius (1), yaki (7), dige (7), boti (7), monyet ekor panjang (12), lutung perak (12), lutung Jawa (10), surili (2).

Kemudian, simpai (3), bekantan (1), siamang (4), siamang kerdil (2), wau-wau coklat gelap (4), wau-wau hitam alis putih (3), wau-wau coklat terang (4), owa Jawa (10), kelawat (2), orangutan Kalimantan (14), simpanse (5), dan gorila dataran rendah (4). Dari jumlah itu, 59 ekor di antaranya jenis kelamin jantan, dan 61 di antaranya jenis betina. Sedang 5 ekor sisanya masih belum diketahui.

Meskipun, jumlah populasi primata yang telah di konservasi di Taman Margasatwa Ragunan memang sudah berjumlah ratusan. Namun kenyataannya, jumlah spesiesnya baru sekira 28 dari total 40 spesies di Indonesia.

Kekhawatirannya, 12 spesies yang pernah dilaporkan tersebut sudah terlanjur menjadi punah sebelum sempat dikonservasi. Kenyataannya hingga saat ini, di Asia hanya dua negara yang dipercaya untuk mengonservasi gorila hanyalah Indonesia dan Jepang. Perawatan spesies primata jenis kera besar ini memang cenderung lebih ketat. Sebab habitatnya di alam hewan yang berasal dari Afrika itu memang sudah terbatas. Memang Indonesia baru dipercaya mengelola salah jenis spesies gorila, yakni gorila dataran rendah (gorila gorila gorila). Selain itu, karena asal muasal gorila memang berasal dari daerah tropis, sehingga suhu dan iklim Indonesia memang cocok untuk gorila.

"Memang agak sulit dan ketat kriteria untuk mengelola dan merawat gorila. Sebab banyak hal yang harus dipenuhi. Di Indonesia sendiri, ada lima sampel tanah yang harus diambil dan diteliti apakah kondisi tanahnya cocok dan tidak mengandung virus yang bisa menyebabkan sakit tenggorokan gorila," katanya.

Ternyata memang tidak mudah untuk konservasi spesies hewan. Seperti halnya badak Jawa yang tidak bisa hidup kecuali hanya di habitat aslinya. Menurut dia, memang sempat jenis badak Sumatra pernah di konservasi di luar habitat aslinya 1950-an dikonservasi di Denmark, namun itu tidak diketahui apakah bisa berkembang biak dengan baik ataukah tidak. Kemudian baru tahun 1986, baru badak Sumatra dicoba di konservasi di Inggris dan Amerika Serikat. Konservasi di Inggris tidak berhasil, kecuali di AS itu berhasil namun kemudian salah satu anakannya dikembalikan ke habitat aslinya di Way Kambas Sumatra. Sebab, kata dia, di antara lima jenis badak di dunia spesies badak Sumatra merupakan yang paling primitif, bentuknya badannya lebih kecil dan berbulu seperti kerbau. Badak Jawa bentuk badannya mirip badak India, namun kenyataannya hingga saat ini memang belum bisa dikonservasi di luar habitat aslinya.

Bisa jadi jenis spesies primata di Indonesia yang endemik juga tidak bisa di konservasi di luar wilayah habitatnya. Untuk itu, konservasi sebelum terjadi kepunahan memang sudah mutlak untuk dilakukan.

Memang berdasarkan ciri tubuh, primata yang berasal dari kata primus (bahasa latin) yang berarti yang pertama atau hewan tingkat tinggi dari kelompok mamalia dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar. Yakni primata primitif (prosimian) di antaranya tarsius dan kukang. Kemudian kelompok monyet yang didalamnya termasuk monyet dan monyet daun. Untuk kelompok monyet ada monyet ekor panjang dan boti. Sedang untuk kelompok monyet daun ada lutung, surili, dan bekantan. Kelompok besar ketiga yakni jenis kera (ape), baik kera besar dan owa. Kelompok kera besar di antaranya gorilla, simpanse, bonobo, dan orangutan.

Sedang untuk kelompok owa ada siamang, owa Jawa, dan kelawat. Menurut Dedi, manusia juga termasuk golongan primata. Secara keseluruhan jenis primata sudah mengalami spesialisasi untuk hidup dipepohonan. Sedangkan beberapa jenis primata yang kini hidup dilantai hutan (terrestial) di antaranya, seperti gorilla dan babun yang sebenarnya berasal dari bentuk-bentuk yang pernah hidup di pepohonan. 

(mbs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini