Jejak Langkah Tifatul, 'Anak Panah Ketiga' PKS

Stefanus Yugo Hindarto, Jurnalis · Rabu 21 Oktober 2009 22:27 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2009 10 21 54 268007 de7zUpqK4h.jpg Menkominfo Tifatul Sembiring
JAKARTA - Pilihan Susilo Bambang Yudhoyono jatuh pada Tifatul Sembiring untuk ditempatkan sebagai pemimpin Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), menggantikan Muhammad Nuh.

Nama Tifatul sudah dikenal luas di masyarakat sebagai Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) periode 2005-2010. Sosoknya bahkan sering disebut-sebut sebagai 'anak panah ketiga' PKS, setelah Nurmahmudi Ismail dan Hidayat Nurwahid. Tapi banyak masyarakat yang belum mengenal jauh siapa sosok pria kelahiran Bukit Tinggi, 28 September 1961 itu.

Banyak kalangan yang meragukan kemampuannya, terlebih penempatannya di Depkominfo dinilai sebagai bagian dari langkah Susilo Bambang Yudhoyono untuk membagi-bagikan kue kekuasaan. Suami dari Sri Rahayu itu sebenarnya pernah berkutat dengan dunia teknologi. Gelar insinyur yang disandangnya diperoleh dari Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STI&K) , Jakarta.

Selain itu, ia pernah bekerja di PT PLN Pusat Pengaturan Beban Jawa, Bali, Madura selama kurun waktu 1982-1989. Selama di PLN, ayah tujuh anak itu dipercaya menggarap bidang telekomunikasi dan data processing.Namun, pria yang kerap melempar senyum ini mengundurkan diri pada 1989. Alasannya, pekerjaannya itu sangat menyita waktu sehingga tidak bisa menyempatkan diri berinteraksi dengan sesama untuk berdakwah.

"Sedikit sekali waktu saya untuk berinteraksi dengan masyarakat. Saya berangkat jam enam pagi dan pulang jam enam sore dalam kelelahan. Interaksi saya dengan masyarakat itu minim sekali," kata Tifatulketika ditanya alasan hengkang dari pekerjaannya.

Sebagai penopang kehidupan keluarga, Tifatul lalu membuka usaha sendiri di bidang penerbitan. Pria jebolan International Politic Center for Asian Studies Strategic Islamabad, Pakistan itu menjabat direktur sekaligus penulis pada penerbitan Asaduddin Press, Jakarta, pada 1991.Karir Politik Tifatul di kancah politik praktis dimulai ketika dia ikut mendirikan Partai Keadilan (PK).

Karirnya terus berkembang dalam partai itu. Awalnya, dia menjabat humas partai mendampingi Nurmahmudi Ismail. Kemudian Tifatul ditugaskan sebagai Wakil Sekjen, dan pascamunas mendapat mandat menjadi Ketua DPP untuk Wilayah Dakwah I Sumatera.

Kiprahnya selama menjadi Ketua DPP untuk Wilayah Dakwah I Sumatera dipandang sukses. Ia membawa PKS memperoleh 380 kursi di parlemen dari Sumatera. Sebanyak 11 orang di DPR RI, 57 orang di DPRD provinsi, dan sisanya adalah DPRD kabupaten-kota, merupakan sepertiga dari total 1.112 kursi yang diperoleh PKS di seluruh Indonesia.Karir politik yang menjulang itu tak lepas dari dukungan keluarga.

Dukungan istri dan anak-anaknya telah terlihat sejak pertama kali ia aktif di partai. Keluarganya sudah paham dengan kegiatan yang amat ketat itu terlebih saat kesibukannya meningkat ketika Nurmahmudi Ismail menjadi Presiden PK. Sebagai humas PKS, dia selalu diminta untuk mendampingi sang presiden.

Tifatul juga dikenal sebagai sosok yang selalu berusaha menyediakan waktu khusus untuk keluarganya. Ia sering menggelar rapat keluarga untuk mendengarkan masukan dan kritikan dari tujuh anaknya. Perjalanan karir Tifatul tak terlepas dari berbagai permasalahan. Gaya bicaranya yang lugas terkadang menyeretnya kepada masalah hukum. Pada tahun 2006, Tifatul disomasi oleh lima fraksi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Depok akibat pernyataannya. Ketika itu, Tifatul melontarkan kata-kata yang menyatakan DPRD Depok sebagai pemeras atau tukang palak.

Bukan hanya itu, Tifatul juga sempat akan berhadapan dengan hukum karena ikut dalam aksi demo bertajuk One Man One Dollar Save Palestina. Terlepas dari itu semua, Tifatul kini menyatakan mantap melangkah mantap sekiranya menjadi Menkominfo.

Pada pernyataan terakhir sebelum ditunjuk SBY menjadi menkominfo, ia berani mewujudkan program 100 desa komputer dalam 100 hari pertama. Selain itu, dia berjanji akan menciptakan sistem pemerintahan yang terkomputerisasi, untuk meminimalisasi praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN).

Semoga apa yang diutarakan Tifatul sama seperti pantun yang diucapkannya kala berorasi dalam kampanye Pilwakot Bandung di Lapangan Gasibu Bandung, 4 Agustus 2008."Banyak pejabat terlibat korupsi, setelah empuk duduk di kursi. Ini bukan soal ambisi, rakyat lapar menunggu solusi,".

Profil Tifatul Sembiring

Lahir: Bukittinggi, 28 September 1961

Istri: Sri Rahayu

Anak:
1. Sabriana Sembiring
2. Fathan Sembiring
3. Ibrahim Sembiring
4. Yusuf Sembiring
5. Fatimah Sembiring
6. Muhammad Sembiring
7. Abdurrahman Sembiring

Riwayat Pekerjaan:
1. Direktur Asaduddin Press, Jakarta
2. PT PLN Pusat Pengaturan Beban Jawa, Bali, Madura 1982-1989

Pendidikan:
1. Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Informatika dan Komputer (STI&K) Jakarta
2. International Politic Center for Asian Studies Strategic Islamabad, Pakistan

(stf)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini