Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gempa Tidak Sebabkan Pergeseran Kiblat

Rachmatunnisa, Jurnalis · Sabtu 20 Maret 2010 11:54 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2010 03 20 56 314385 5h7AR9gdbH.jpg (Foto: Ist)

JAKARTA - Awal tahun 2010, publik ramai membahas melencengnya arah kiblat. Gempa bumi yang terjadi bertubi-tubi ditengarai menjadi penyebab pergeseran arah kiblat di sejumlah masjid di Indonesia. Alasannya, akibat gempa tanah di Indonesia mengalami pergeseran sekitar tujuh centimeter per tahun.

Padahal pada kenyataannya, gempa tidak sampai menyebabkan pergeseran arah kiblat. Profesor Riset Astronomi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin memberikan catatan kepada media dan pihak terkait agar jangan sampai menimbulkan kesalahfahaman terkait hal ini.

"Pernyataan tersebut mungkin salah kutip atau salah persepsi, tetapi berpotensi meresahkan masyarakat. Pergeseran lempeng yang mengubah peta bumi lalu mengubah arah kiblat, perlu waktu puluhan juta tahun. Jadi tidak akan ada perubahan arah kiblat akibat gempa," kata Thomas kepada Okezone, Sabtu (20/32010).

Menurutnya, jika kenyataannya banyak mesjid yang arah kiblatnya kurang tepat, bukan disebabkan perubahan tersebut, melainkan karena sejak awal menentukan arah kiblat yang memang kurang akurat.

Pendapat yang sama juga diungkapkan pakar gempa dari Universitas Indonesia Abdul Haris. Dia menepis anggapan bahwa arah kiblat di Indonesia bergeser akibat gempa. "Arah kiblat di Indonesia tetap. Bahkan perhitungan kami sebenarnya gempa hanya mengakibatkan pergeseran lempeng bumi sebesar dua centimeter per tahun. Kalau dibilang sampai tujuh centimeter, itu besar sekali," ujarnya.

Menurutnya, gempa yang terjadi di Indonesia dampaknya tidak sampai sejauh itu dan tidak terlalu signifikan untuk ukuran luas Indonesia, kecuali dalam jangka waktu jutaan tahun. "Pusat kiblat itu kan di Timur Tengah sana, di Arab Saudi. Jaraknya sangat jauh jika kita mau tarik garis lurus dari sana. Kalaupun berubah, perhitungannya hanya sepersekian milimeter, itu kecil sekali," terangnya.

Untuk meminimalisir tingkat kesalahan, Haris menyarankan pengukuran kiblat dengan dengan bantuan teknologi. "Kalau dulu hanya menggunakan kompas atau hanya dikira-kira, sekarang kan sudah banyak teknologi untuk membantu ini," kata Haris. Teknologi yang dimaksud Haris adalah beberapa situs yang menyediakan petunjuk arah kiblat dengan aplikasi Google Maps yang dapat diakses di www.qiblalocator.com atau yang berbahasa Indonesia di http://rukyatulhilal.org.

(rah)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini