Share

Menentukan DNA Melalui iDNAtity

Koran SI, Jurnalis · Sabtu 27 Maret 2010 12:55 WIB
https: img.okezone.com content 2010 03 27 56 316724 H7EgjYQvfc.jpg Gary Cass (foto: flickr)

JAKARTA - Pakar sains dari University of Western Australia, Gary Cass, menggelar lokakarya bertajuk 'iDNAtity, Strike a Chord: The Science of Music' di Pusat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (P-Iptek), Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, yang diikuti 11 siswa SMU Negeri 8 Jakarta.

Lewat iDNAtity, Cass ingin mengajak pelajar, seniman, dan masyarakat umum tentang pentingnya pemanfaatan bioteknologi dalam seni. Lantas apa itu iDNAtity?

Menurut Cass, iDNAtity merupakan sistem komputer untuk menghasilkan musik dengan menggunakan ururyan DNA unik masing-masing individu. "Kita dapat memecahkan pertanyaan tentang DNA unik lewat pengenalan wajah dan keunikan fisik. Contoh sederhananya adalah warna mata," papar Cass. Menurut Cass, warna mata memudahkan kita untuk memetakan aspek susunan genetisasi pemilik mata.

Dalam lokakarya itu, Cass terus mengingatkan pentingnya mempelajari iDNAtity. "Pentingnya iDNAtity adalah bukti peran bioteknologi dalam sains, seni dan kehidupan bermasyarkat," paparnya. Dia terus menyemangati pelajar untuk bersaing dalam bidang bioteknologi.

Cass lantas memperlihatkan rentetan kode DNA yang terpampang di layar monitor dan menjelaskan kombinasi DNA tersebut. Kemudian dia memperdengarkan alunan musik yang dihasilkan kombinasi DNA.

"Kita punya frekuensi bunyi yang berbeda. Anda juga bisa menghasilkan musik seperti ini," pesannya.

"Ada seorang pelukis asal Yogyakarta, Anang Saptoto namanya," katanya mengawali penjelasan mengenai DNA. Cass mengenal Anang sebagai pelukis yang unik. "Dia bisa menghasilkan karya yang berbeda dari pelukis lain," tuturnya.

Anang selalu menggunakan kode genetika dalam berkesenian. Cara ini ampuh untuk menghasilkan lukisan yang menarik. "Lihat lingkaran-lingkaran ini," kata Cass sambil menunjuk ke layar. Di layar tampak hasil lukisan Anang. Berbeda bukan? Tanya Cass yang diikuti dengan anggukan kepala peserta.

"Anda tidak perlu kuliah dengan biaya mahal hanya untuk menentukan DNA," katanya dengan suara lantang. Dia mengambil beberapa alat peraha dan membawanya ke depan siswa SMU 8.

"Anda akan lihat, saya bisa melakukan sulap. Lihat saja," katanya berkelakar.

Cass adalah ilmuwan yang energik. Dia bukan pembicara yang kaku, Cass memilih berdiri di tengah-tengah siswa SMU 8 untuk memberikan penjelasan sederhana tentang iDNAtity. Cass kerap memakai kiasan supaya pelajar mudah memahami pemaparannya.

"Saya ingin pelajar bisa mengeksplorasi genetis dengan menentukan keunikan fisik kita," papar Cass. Dia berlari kecil ke arah siswi SMU 8 dan beberapa menit berikutnya sudah beralih ke sekumpulan siswa yang tengah sibuk mendengarkan penjelasannya.

Pakar sains yang tampak santai dalam balutan celana selutu ini lantas mengajak peserta untuk berdiri.

"Bangun dan tentukan DNA-mu," katanya. Kemudian Cass mendekati setiap siswa SMU 8. Dia memberi tahu cara kerja alat peraga yang ada di atas meja. Dia meminta peserta untuk membuang ludah ke dalam tabung khusus, kemudian mencampurnya dengan etanol.

"LIhat, ini seperti sulap. Ini DNA-mu. kerja yang bagus, Teman," katanya memuji peserta.

Sebagai ilmuwan, Cass yang tinggal di Perth, Australia, telah melakukan berbagai kolaborassi sains. Hasil penelitian Cass diaplikasikan ke dalam ilmu pertanian, biologi, hingga proyek penelitian mahasiwa.

(srn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini