Thomas Djamaluddin Luruskan Gosip Astronomi

Rachmatunnisa, Jurnalis · Rabu 31 Maret 2010, 16:38 WIB
https: img.okeinfo.net content 2010 03 31 363 318127 Gh0zRe9QG4.jpg Thomas Djamaluddin saat bersama keluarga (Foto: Facebook, 2007)

Nama Thomas Djamaluddin kerap muncul diiringi penjelasan mengenai berbagai fenomena astronomi dan segala hal berhubungan dengan antariksa. Yang terbaru, Thomas muncul di berbagai media massa, meluruskan informasi tentang fenomena badai matahari yang meresahkan serta isu perubahan arah kiblat akibat gempa.

Siapakah sesunguhnya Thomas Djamaluddin? Dia adalah seorang astronom sekaligus peneliti di bidang astronomi dan astrofisika. Lahir pada 23 Januari 1962, Thomas hingga saat ini menjadi profesor Riset Astronomi Astrofisika Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN).

Sejatinya, nama aslinya saat lahir hanya Djamaluddin. Namun tradisi Jawa mengganti nama anak yang sakit-sakitan, menyebabkan namanya diganti menjadi Thomas ketika berumur tiga tahun. Namanya kemudian digabungkan saat SMP menjadi Thomas Djamaluddin. Sejak SMA, seperti anak gaul saat ini, dirinya lebih suka menyingkat namanya menjadi T. Djamaluddin.

Sejak usia sekolah, Thomas memiliki ketertarikan besar terhadap dunia sains dan astronomi. Keseriusan Thomas terus berlanjut hingga akhirnya ketika kuliah, dia memutuskan untuk memilih jurusan astronomi di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Lulus dari ITB, Thomas kemudian melanjutkan program S2 dan S3 di Universitas Kyoto, Jepang, masih mengambil jurusan yang sama. Sebagai peneliti, ayah dari tiga orang anak ini ingin agar ilmunya bermanfaat dan memberikan pencerahan bagi orang lain. Itu sebabnya, dia kerap mempublikasikan tulisan-tulisannya melalui blog atau catatan di akun Facebook miliknya.

Thomas tidak bisa tinggal diam tatkala terjadi kesimpangsiuran informasi. Contohnya, ketika publik dihebohkan dengan isu kiamat 2012 akibat badai matahari dan melencengnya arah kiblat karena gempa. Tak heran, beberapa waktu lalu Thomas sibuk hilir mudik di berbagai media. Hal ini tentu saja karena kapasitasnya dianggap mumpuni untuk memberikan 'pencerahan'.

"Semoga masyarakat menerima informasi yang benar, sehingga tidak timbul kepanikan dan keresahan," ucap Thomas kala itu. Di berbagai media, Thomas secara gamblang menerangkan bahwa badai matahari merupakan bagian dari siklus puncak aktivitas matahari yang normal terjadi setiap 11 tahun sekali. "Meski perlu diwaspadai, badai itu tidak sampai menghancurkan bumi seperti yang selama ini ditakutkan," katanya.

Pun ketika publik ramai membahas gempa mengakibatkan perubahan arah kiblat, Thomas dengan sigap menyanggahnya. "Pernyataan tersebut mungkin salah kutip atau salah persepsi, tetapi berpotensi meresahkan masyarakat. Pergeseran lempeng yang mengubah peta bumi lalu mengubah arah kiblat, perlu waktu puluhan juta tahun. Jadi tidak akan ada perubahan arah kiblat akibat gempa," tegasnya.

Thomas menyadari sepenuhnya, terdapat keterkaitan antara ilmu pengetahuan dan agama. Hal itu mendorongnya giat melakukan pengkajian ilmu pengetahuan yang kemudian dihubungkan dengan pemahaman agama. Bahkan Thomas menampakkan kesungguhannya untuk memasyarakatkan astronomi untuk kepentingan ibadah.

Menurut Thomas, astronomi kini bisa menjadi bagian dari solusi. Misalnya, menjadi jembatan antara kelompok hisab dan rukyat yang sejak lama disebut-sebut tidak bisa dipersatukan karena masalah pijakan dalil yang berbeda.

Melalui hobi menulisnya, suami dari Erni Riz Susilawati ini kerap mengutarakan pemikirannya terkait astronomi dan agama, baik melalui media tulis, cetak, maupun online. Hal ini kemudian mendekatkannya dengan Departemen Agama dan Badan Hisab Rukyat, hingga akhirnya Thomas pun bergabung di sana. Pria berkacamata ini sering dimintai masukan mengenai penanggalan Islam dan kerap memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai perbedaan-perbedaan yang terjadi.

Kesibukan Thomas lainnya adalah menjadi dosen tidak tetap di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Semarang. Di sana, dia mengajar Program Magister dan Doktor Ilmu Falak.

Thomas senantiasa berkeinginan agar ilmu astronomi dapat tersosialisasikan dengan baik ke masyarakat. Menurutnya, mengenalkan astronomi ke masyarakat dapat mengantarkan mereka memahami sains. Itu pula sebabnya, menyambut bulan Astronomi Global yang jatuh pada April, Thomas tidak mau ketinggalan untuk turut menyebarluaskan informasi astronomi melalui berbagai kegiatan di LAPAN.

"April adalah Bulan Astronomi Global. Astronomi mampu membangun antusiasme masyarakat untuk memahami alam semesta dan dinamikanya. Astronomi membangkitkan minat generasi muda untuk menyukai sains. Kita semua bisa turut memasyarakatkan astronomi, karena bukan sekadar astronomi sebagai ilmu, tetapi astronomi sebagai jembatan mencintai sains, dan astronomi sebagai bagian dari solusi," ungkapnya penuh semangat.

Thomas memang masih belum bisa memastikan waktu dan bagaimana bentuk kegiatan astronomi LAPAN menyambut Bulan Astronomi Global. Namun yang jelas, kata Thomas, orientasinya akan lebih mengarah pada pemahaman terhadap fenomena astronomi yang menarik saat ini.

"Belum ditentukan waktunya, mengingat cuaca yang belum menentu. Insya Allah cakupannya meliputi astronomi siang, yaitu membahas matahari sebagai bintang," janji Thomas.

Daftar Riwayat Hidup

Dr Thomas Djamaluddin

Pakar Astronomi, Peneliti LAPAN

Jabatan: Profesor Astronomi dan Astrofisika LAPAN

Sekolah: SDN Kejaksan 1, SMPN 1, dan SMAN 2 Cirebon. S1 ITB jurusan Astronomi.

S2 dan S3 di Kyoto University, Jepang

Istri: Erni Riz Susilawati

Anak: Vega Isma Zakiah (lahir 1992), Gingga Ismu Muttaqin Hadiko (lahir 1996), dan Venus Hikaru Aisyah (lahir 1999).

Aktif di Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD) Jabar & BHR Kementerian Agama RI, mengupayakan penyatuan kriteria hisab-rukyat, dan juga menjabat sebagai dosen tidak tetap di IAIN Semarang.

Email: t_djamal@bdg.lapan.go.id atau t_djamal@hotmail.com

Blog:  Dokumentasi T Djamaluddin

Facebook: Thomas Djamaluddin

(rah)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini