Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Halo Matahari Kagetkan Warga Bandung Barat

Rabu 13 Oktober 2010 10:58 WIB
https: img.okeinfo.net content 2010 10 13 56 381999 y8utOUsJAh.jpg Fenomena matahari Halo

BANDUNG BARAT - Fenomena alam berupa penampakan cincin raksasa yang mengitari matahari membuat heboh warga Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, kemarin.

Di tengah cuaca terik dan langit cerah, warga melihat pelangi yang berbentuk cincin raksasa tepat mengitari matahari dengan warna kehitam-hitaman terjadi sekitar 30 menit sejak pukul 11.00 WIB.

"Kalau melihat pelangi yang sering dikaitkan mitos sedang ada putri mandi saya sering melihatnya. Tapi jika yang seperti ini, selama hidup saya baru melihat sekarang," ujar Encep Saefuloh, 51, warga Cipatat, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

Beberapa warga yang tengah melakukan aksi pemblokiran jalan di Desa Padalarang dan Jayamekar juga terkesima melihat kejadian itu. Sebagian besar mengaku baru pertama kali melihat fenomena alam seperti itu. Mereka menduga ada kaitannya dengan cuaca ekstrem yang terjadi pada tahun ini.

"Mudah-mudahan saja, ini hanya karena kejadian alam biasa dan bukan tanda-tanda mau kiamat," kata Nanang, 38, warga Kampung Sudimampir, Padalarang.

Kepala Observatorium Bosscha Hakim L Malasan mengatakan, fenomena cincin raksasa tersebut biasa disebut halo matahari.

"Halo atau cincin matahari itu merupakan pelangi yang ada di ketinggian ratusan kilometer dari permukaan bumi," ungkapnya.

Menurut dia, pelangi itu terbentuk dari uap air yang membentuk lingkaran atau cincin. Fenomena ini biasa terjadi saat kondisi langit cerah. Halo matahari terlihat saat peralihan langit dengan matahari yang semula kondisinya kering menyatu dengan awan tipis atau cirrus basah yang naik ke angkasa.

Fenomena alam ini terlihat di hampir seluruh wilayah di Jawa Barat dan DKI Jakarta. Terkait pengamatan langsung dengan mata telanjang, Hakim menyarankan agar hal tersebut tidak dilakukan ke pusat titik matahari. Alasannya, jika hal itu dilakukan, sangat berbahaya karena ketika lensa mata berinteraksi cukup lama dengan matahari bisa menyebabkan kebutaan.

Sementara itu, para peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyatakan halo matahari merupakan fenomena alam biasa. Halo disebabkan adanya kristal es di awan tinggi karena suhunya sangat dingin.

"Kristal tersebut menyebabkan pembiasan cahaya matahari yang menguraikannya menjadi warna pelangi," kata peneliti senior astronomi dan astrofisika Lapan Profesor Thomas Djamaluddin, kemarin.

Adapun titik di sekitar matahari dalam lingakaran halo disebabkan efek kontras pelangi.

"Daerah yang bisa melihat adalah yang mataharinya terhalang awan cirrus yang mengandung es tadi. Siang ini (kemarin) di Bandung halo terlihat," ujar Profesor Thomas. (Koran SI/ Adi Haryanto/ Rudini)

(srn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini