Share

Pendapatan Sektor Industri Selular Rp83,7 Triliun

Sandra Karina, Jurnalis · Rabu 16 Maret 2011 17:11 WIB
https: img.okezone.com content 2011 03 16 54 435587 CxtwGy46pr.jpg (foto: google)

JAKARTA - Jumlah pendapatan di sektor industri selular pada tahun 2010 adalah sebesar Rp83,7 trilliun, atau naik dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp77,9 triliun. Pada tahun 2008 adalah Rp70,5 triliun, dan Rp61,4 di tahun 2007.

Sementara itu, untuk pendapatan di sektor industri internet pada tahun 2010 adalah Rp6,7 triliun, Rp5,5 triliun tahun 2009, Rp4,2 triliun tahun 2008, dan Rp2,8 triliun tahun 2007. Sedangkan pendapatan di sektor industri jaringan tetap (fixed line) terus mengalami penurunan. Dimana pada tahun 2010 mencapai Rp7,5 triliun, Rp7,9 triliun di 2009, Rp9,2 triliun di 2008, dan pada tahun 2007 adalah Rp10,4 triliun.

Direktur Utama PT Telkom Tbk Rinaldi Firmansyah mengatakan, jumlah pelanggan industri selular pada tahun 2010 adalah 198.14 juta dan sebanyak 164.098 juta di 2009. Sedangkan jumlah pelanggan industri fixed line pada tahun 2010 adalah 8.384 juta, atau turun dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 8.460. Sementara pelanggan di industri internet pada tahun 2010 adalah sebanyak 7.359 juta. Sedangkan pada tahun sebelumnya hanya 5.216 juta. 

"Dibandingkan dengan negara lain, jumlah operator jaringan selular terbesar terdapat di Indonesia," kata Rinaldi saat seminar Outlook Telecommunication 2011, di Hotel Gran Melia, Rabu (16/3/2011).

Menurut Rinaldi, terdapat beberapa varian produk dan servis yang mendorong pertumbuhan industri telekomunikasi. Pertama, kata dia, adalah servis dasar (basic services), seperti short message service (SMS) dan akses internet broadband. Kedua, adalah konten seperti musik dan toko online. Ketiga, servis yang memberikan nilai tambah (value added services) seperti sistem alat pembayaran (E-payment) dan jaringan lokal nirkabel (Wireless LAN /WLAN). 

Sementara itu, Business Development Director Ericsson Indonesia Sigit Permana mengatakan, banyak peluang lebih dari sekedar mendapatkan dan mempertahankan pelanggan, tapi lebih dari itu, pemain dalam industri telekomunikasi, harus mengevaluasi dan melihat peluang-peluang di masa yang akan datang.

Pada tahun 2020, Sigit memperkirakan bahwa akan ada lebih dari 50 miliar perangkat yang tersambung di dunia.

"Jika kita ambil data dari United Nation forecast ditahun 2020 akan ada delapan miliar populasi di dunia, maka jumlah koneksi akan berada di sekitar 6,25 kali jumlah penduduk di dunia. Jika kita mengambil rata-rata ke Indonesia dengan perkiraan 270 juta penduduk pada tahun 2020, maka akan terdapat sekitar 1,7 miliar perangkat yang terhubung di negara kita," jelas Sigit.

Sigit memaparkan, akan ada beberapa gelombang besar yang harus dihadapi Indonesia untuk menuju ke masyarakat berjejaring (Networked Society). Seperti, kata dia, tren dimana jaringan terhubung ke elektronika konsumen.

"Ini adalah gelombang dimana industri lain akan melihat manfaat dari koneksi. Mulai dari industri listrik, transportasi dan penyiaran, belum lagi kesehatan,dan lain sebagainya. Gelombang ini akan membawa kita melampaui manusia sebagai pelanggan. Pelanggan tidak hanya manusia akan tetapi mencakup hal-hal seperti truk, CCTV, power meter, dan lain-lain," papar Sigit.

Pelangganan tersebut, lanjut Sigit, akan memiliki perilaku yang berbeda. Pada gelombang selanjutnya, kata dia, adalah ekosistem yang lebih besar dalam networked society.

"Robotika dan otomatisasi akan meningkatkan efisiensi manusia," tutup Sigit.

Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala memperkirakan, perkembangan industri telekomunikasi Indonesia di 2011 akan memasuki fase kritis. Pasalnya, kata dia, berdasarkan tingkat penetrasi pengguna telekomunikasi secara total sudah melebihi jumlah populasi.

"Kita akan memasuki fase kritis sebelum ke titik jenuh mengingat ada beberapa faktor lain terkait dengan penetrasi, seperti penggunaan nomor yang saat ini tiap orang biasa menggunakan dua atau tiga nomor, serta angka churn (nomor) hangus yang secara pastinya tetap jadi misteri," jelas Kamilov.

Hanya saja, menurut Kamilov, apabila memang churn-nya tinggi, dan rata-rata pengguna menggunakan dua hingga tiga nomor, itu artinya potensi pasar masih terbuka. Apalagi, kata dia, di beberapa negara, tingkat penetrasi selalu melebihi jumlah populasi karena pengguna SIM card yang lebih dari satu.

CEO PT XL Axiata Tbk Husnul Suhaimi menambahkan, pemerintah harus mendukung pertumbuhan industri telekomunikasi. Terutama, kata dia, dari segi pengembangan kondisi infrastruktur dan pemberian insentif.

"Selain itu, pemerintah juga harus bisa memberikan tarif murah untuk interkoneksi," kata Hasnul.

(srn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini