Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Arkeologis: Cerita 'Pria Gay Zaman Purba' Berlebihan!

Defanie Arianti, Jurnalis · Jum'at 08 April 2011 14:14 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2011 04 08 56 443891 luPyUbAICQ.jpg Jasad pria yang diperkirakan berusia 5.000 tahun ini disinyalir sebagai pria gay tertua di bumi (Foto: Daily Mail)

WASHINGTON - Sejumlah arkeologis mengecam media karena dinilai terlalu membesar-besarkan berita penemuan tengkorak manusia purba yang disinyalir sebagai pria gay tertua.

 

Tengkorak pria yang berusia sekira 5.000 tahun itu ditemukan di pinggiran kota Praha, Rep. Ceska. Pria itu disebut-sebut sebagai pria gay pertama di dunia karena cara penguburannya yang menyerupai cara penguburan untuk wanita pada masa itu.

 

Namun tidak semua arkeologis setuju dengan sebutan 'pria homoseksual dari zaman purba'. Arkeologis dari University of North Carolina, Kristina Killgrove, menilai sebutan itu terlalu meremehkan konsep gender ketiga yang begitu kompleks.

 

"Jika cara penguburan itu merepresentasikan seseorang sebagai transgender, bukan berarti orang itu memiliki orientasi seksual berbeda atau lingkungannya menganggap dirinya sebagai homoseksual," tulis Killgrove pada blognya sebagaimana dikutip Yahoo News, Jumat (8/4/2011).

 

Sementara, paleoantroplogis dari University of Wisconsin John Hawks menyatakan belum ada kepastian bahwa jasad yang ditemukan itu berjenis kelamin laki-laki. "Saya tidak melihat adanya bukti yang benar-benar meyakinkan saya bahwa tengkorak itu memang laki-laki. Mungkin saja tengkorak itu laki-laki, tapi fotonya kurang meyakinkan, dan saya tidak melihat adanya laporan uji DNA," ungkap Hawks.

 

Arkeologis lain, Monty Dobson, dari Drury University mengklaim sulit untuk memastikan jenis kelamin tengkorak. Selama ini para ahli arkeologi dan antropologi hanya mengandalkan pengukuran tulang, terutama ukuran dan bentuk pinggul. Akan tetapi perkiraan ini belum tentu tepat.

 

"Pada sejumlah kasus ketika kami sudah menentukan jenis kelamin dari sebuah tengkorak yang ditemukan, ternyata kami melakukan kesalahan," imbuh Dobson.

 

"Penemuan ini bisa jadi sebenarnya tidak berarti apa-apa. Meski begitu, mungkin juga penemuan ini akan memberikan informasi yang sangat menarik untuk kita. Hanya saja saat ini data yang dimiliki belum cukup untuk menyebutkan sebuah pernyataan yang pasti," tutupnya.

(van)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini