nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Apa Kata James 'Avatar' Tentang 3D LG?

Susetyo Dwi Prihadi, Jurnalis · Jum'at 15 April 2011 18:39 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2011 04 15 57 446591 nzZAHx4Mpq.jpg

JAKARTA - James Cameron, seorang sutradara “Avatar”, menyatakan dukungannya pada teknologi passive 3D. Hal ini terungkap melalui pernyataannya di sela-sela perannya menjadi pembicara kunci (keynote speaker) dalam pembukaan National Association of Broadcasters (NAB) Show.

“Kita lebih menyukai sesuatu yang dapat didaur ulang. Sebuah kacamata plastik dengan harga terjangkau yang bekerja dengan baik dalam menampilkan tayangan 3D bagi mata kiri dan kanan. Dibanding mengeluarkan dana beberapa ratus dollar untuk mendapatkan sebuah kacamata 3D dengan teknologi active 3D yang masih harus memastikannya terisi daya dari baterai, bekerja dengan baik dan memastikannya dalam keadaan aktif,” katanya, seperti dikutip melalui keterangan resminya, Jumat (15/4/2011).

Bahkan dalam sebuah perbincangan khusus dengan www.variety.com pada acara yang sama, James Cameron memprediksi penggunaan teknologi active-shutter glasses akan segera menurun. Teknologi ini menurutnya akan tergantikan dengan kacamata 3D dengan lensa terpolarisasi (polarized lens) yang lebih murah dan dapat didaur ulang.

“Ketika penggunaan passive 3D mendominasi produk dengan active 3D, maka akan membuka celah besar baru bagi peningkatan adopsi konten 3D di dalam rumah,” tambahnya.

Bicara mengenai teknologi 3D TV, generasi pertama 3D TV memperkenalkan diri dengan teknologi active 3D yang dikenal pula dengan sebutan shutter glasses. Teknologi ini mengandalkan kinerjanya pada kacamata berteknologi khusus, Liquid Crystal glasses.

Kacamata dengan dukungan daya baterai ini menangkap sinyal dari TV secara bergantian oleh mata kiri dan kanan pada ritme tertentu, sementara layar TV menayangkan perspektif berbeda dari gambar yang sama. Proses ini menstimulasi otak memunculkan efek 3 dimensi.

Cara kerja hampir serupa dengan kejapan mata bergantian dan tuntutan fokus pada satu bagian layar demi beroleh letak tepat jatuhnya sinyal pada mata, menimbulkan keluhan keletihan pada mata penggunanya. Belum lagi harga kacamata 3D dengan teknologi ini tergolong mahal.

Muncul kemudian teknologi passive 3D. Alat bantunya hanyalah kacamata dengan lensa terpolarisasi (polarized lens) yang lazim digunakan saat menikmati film 3D di bioskop. Mata pun bebas dari rasa letih berlebih karena kedua mata menerima gambar TV secara bersamaan.

LG Electronics tercatat menjadi vendor elektronik pertama dan satu-satunya di dunia yang mengadaptasi teknologi passive 3D bagi pengembangan 3D TV-nya. Penerapan teknologi ini terwujud dalam 3D TV terbarunya, LG Cinema 3D TV, yang mengusung teknologi Film Patterned Retarder (FPR).

Sama halnya dengan cara kerja teknologi passive 3D, LG Cinema 3D TV hanya membutuhkan alat bantu kacamata dengan lensa terpolarisasi (polarized lens). Hal ini karena LG Cinema 3D TV menggunakan lapisan khusus pada layarnya yang membuat proses reproduksi gambar menjadi memiliki efek 3D terjadi di layar TV. LG Cinema 3D TV sendiri baru saja diperkenalkan secara resmi bagi konsumsi pasar Indonesia pada 11 April lalu.

Menanggapi pernyataan dari James Cameron, PT. LG Electronics Indonesia menyatakan optimismenya dalam pemasaran LG Cinema 3D TV di Indonesia.

“LG Cinema 3D TV dengan teknologi FPR adalah sebuah terobosan baru dalam menikmati konten 3D pada ruang keluarga di rumah. Memungkinkan penggunaan kacamata 3D dengan harga semakin terjangkau sehingga lebih banyak orang dapat menikmatinya,” ujar Eko Adhi Suyitno, Product Manager Flat Panel Display, PT. LG Electronics Indonesia (15/4).

Bahkan keyakinan besar ini diwujudkan dalam penetapan target penjualan LG Cinema 3D TV sejumlah 5,000 unit tiap bulannya. “Dengan LG Cinema 3D TV, kami siap menjadi pemimpin pasar bagi produk 3D TV di Indonesia pada akhir tahun ini,” ujar Eko lebih lanjut.

(tyo)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini