Share

Penyelenggara BWA 2,3 Ghz Boleh Pakai Teknologi 16e

Susetyo Dwi Prihadi, Jurnalis · Rabu 24 Agustus 2011 17:01 WIB
https: img.okezone.com content 2011 08 24 54 495918 bakqbLlYMY.jpg Ilustrasi (Foto: Dok okezone)

JAKARTA - Setelah sempat tarik ulur mengenai teknologi yang digunakan untuk perangkat Broadband Wireless Access (BWA), akhirnya Kementerian Kominfo secara resmi membebaskan teknolgi terbarukan untuk pita frekuensi radio 2.3 Ghz untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel.

Keputusan ini sendiri diambil setelah melewati rapat antara Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Muhammad Budi Setiawan di ruang rapat Ditjen SDPPI di Gedung Sapta Pesona dengan para perwakilan direksi dan atau komisaris dari para pemegang izin BWA, yaitu PT Telekomunikasi Indonesia,Tbk., PT First Media,Tbk. PT Berca Hardayaperkasa, PT Indosat Mega Media (IM2) dan PT Jasnita Telekomindo serta sejumlah anggota BRTI.

Dalam rapat tersebut diambil keputusan dua opsi kepada pemenang penyelenggara BWA tersebut. Opsi  pertama, untuk tetap menggunakan tehnologi sesuai dokumen Seleksi tahun 2009, dengan nilai BHP IPSFR Tahunan sesuai hasil seleksi lelang tahun 2009.

Atau Opsi 2 untuk menggunakan tehnologi BWA lainnya dengan konsekuensi wajib menerima nilai BHP IPSFR dari penyesuaian nilai harga seleksi lelang tahun 2009.

Ini artinya, penyelanggara dibebaskan untuk menggunakan teknologi standar 16.e. Walaupun awalnya Kominfo sudah ketok palu dengan hanya mengakui standar Wimax 802.16d.

"Pertemuan tersebut tidak memberikan opsi tawar-menawar nilai BHP IPSFR Tahunan, karena pilihannya hanya take it or leave it dan hal tersebut merupakan murni keputusan dari penyelenggara BWA," kata Kepala Humas dan Informasi Gatot S Dewabroto, dikutip melalui keterangannya, Rabu (24/8/2011).

Ditambahkan oleh Gatot, keputusan ini umumnya sebagian besar menyambut gembira terhadap upaya pemerintah tersebut, karena terdapat 3 (tiga) penyelenggara BWA yang langsung memilih Opsi 2 berikut konsekuensi penambahan harga BHP IPSFR.

"Namun terdapat 1 (satu) penyelenggara BWA yang juga tentatif akan memilih Opsi 2 tetapi harus melakukan konsultasi internal, dan ada juga 1 (satu) penyelenggara BWA yang menyatakan akan tetap dengan Opsi 1 dengan berbagai pertimbangan yang ada," tandasnya.

Tarik ulur ini sendiri berkepanjangan setelah teknologi Wimax yang diusung di Indonesia terdiri dari dua standar yang berbeda yaitu, menggunakan 802.16d (16d) untuk Fixed atau Nomadic Wimax dengan teknik modulasi Orthogonal Frequency Division Multiplex (OFDM). Lalu 802.16e (16e) untuk Mobile Wimax.

Kominfo di awal keputusanya memilih mengadopsi 16d dengan pertimbangan untuk membangkitkan manufaktur dalam negeri karena penyedia perangkat global lebih banyak bermain di 16e.

(tyo)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini