Ina Geoportal, Gerbang Info Geospasial untuk Indonesia

Yoga Hastyadi Widiartanto, Jurnalis · Sabtu 28 Juli 2012 09:13 WIB
https: img.okezone.com content 2012 07 27 90 669634 Vpq3ANRsA9.jpg capture

JAKARTA - Kepala Bidang Metadata Badan Informasi Geospasial (BIG), Antonius Bambang Wijanarko memperkenalkan Ina-Geoportal. Ini adalah sebuah situs yang sedang dikembangkan sebagai gerbang untuk menuju berbagai data dan informasi geospasial.

Data geospasial (DG) adalah data tentang lokasi geografis, dimensi, ukuran atau karakteristik objek alam maupun buatan manusia di atas permukaan Bumi. Sedangkan informasi geospasial adalah DG yang sudah diolah sehingga bisa digunakan sebagai alat bantu perumusan kebijakan atau pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan kebumian.

"Ina Geoportal berisi sistem informasi geografis. Portal untuk berbagi data dan aplikasi. Seperti jejaring sosial geospasial. Sekarang terbatas pemerintahan saja, tapi nanti akan dibuka yang untuk masyarakat lewat jalur lain," ungkapnya.

Saat ini portal tersebut masih dalam tahap pengembangan atau beta, meskipun sudah bisa diakses siapapun melalui tanahair.net. Rencananya pada 2013 nanti akan diluncurkan versi rampungnya.

"Data di dalamnya, rencananya akan meliputi peta pemanfaatan tenaga nuklir, gempa bumi, penutupan lahan sampai potensi pemulihan bencana," terang Antonius di Jakarta, Jumat kemarin.

Peta dalam portal bukan hanya berasal dari Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) saja. Peta di dalam portal tersebut dibangun oleh berbagai kementerian, lembaga serta pemerintah daerah di Indonesia.

"Tidak ada satu institusi pun yang memiliki data paling lengkap, tapi itu akan lengkap bila bisa diintegrasikan satu sama lain. Sehingga dapat tersusun referensi tunggal," papar Antonius.

"Portal itu bukan milik satu pihak, tapi milik semuanya," imbuhnya.

Proyek ini sudah berlangsung semenjak tahun 2011. Tantangan pengembangnya berkisar dalam soal klasifikasi data dari berbagai dan pemanfaatannya. Selanjutnya pemerintah pusat, provinsi maupun kabutaten harus segera menyelesaikan klasifikasi data geospasial mana yang bisa dipublikasi dan diakses masyarakat, mana yang khusus internal.

(yhw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini