Wahh, Masyarakat Perbatasan Lebih Kenal Radio Negara Tetangga

Andina Librianty, Jurnalis · Rabu 28 November 2012 16:00 WIB
https: img.okezone.com content 2012 11 28 54 724476 4vvmUi8NA2.jpg ilustrasi

BELU - Radio komunitas yang merupakan bantuan dari pemerintah untuk wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste yang ada di tiga wilayah Atambua yaitu Silawan, Tasifeto Timur, dan Tasifeto Barat, izinnya sudah dicabut.

Alhasil, minimnya siaran radio lokal dibanding negara tetangga membuat masyarakat perbatasan lebih mengetahui informasi tentang negara tersebut dibandingkan Indonesia.

Mulai dari Sumber Daya Manusia (SDM), hingga berujung izin siaran yang tidak ada menjadi faktor "matinya" radio komunitas Indonesia di perbatasan.

"Minimnya SDM, listrik, izin siaranya juga belum ada. Jadi tidak begitu bertahan dan siaran radio komunitas itu sudah berhenti lama," kata Kepala Subseksi Siaran RRI Atambua Arnold Klau, di kantor RRI Atambua, Belu, NTT, Rabu (28/11/2012)

Pihak RRI Atambua menyayangkan pemancar radio komunitas yang masih bisa digunakan, tapi terbengkalai begitu saja. "Kalo tidak dipakai pemancarnya bisa untuk RRI, jadi daerah di perbatasan bisa dijangkau. Sehingga kami bisa  relay siaran RRI di perbatasan," jelasnya.

Lebih lanjut, diungkapkan Staf Teknis Studio dan Multimedia RRI Atambua Ans Netu, pihaknya tanpa sengaja mengetahui bahwa pemancar radio komunitas itu tidak lagi digunakan.

"Kami sedang jalan-jalan dan tahu kalau ada pemancar radio komunitas yang tidak lagi berfungsi. Radio komunitas itu sudah macet,  padahal alat-alatnya masih bagus, tapi tidak digunakan," pungkasnya.

Berkurangnya jangkauan siaran radio Indonesia, masyarakat di perbatasan menjadi lebih sering menikmati siaran radio dari Timor Leste. RRI Atambua pun berharap bisa memperluas jangkauan siaran, sehingga Warga Negara Indonesia yang tinggal di wilayah perbatasan bisa lebih banyak mengetahui informasi  tentang  negaranya.

Apalagi, dengan berhentinya siaran radio komunitas di perbatasan, otomatis masyarakat di sekitarnya tidak bisa mendapatkan informasi yang memadai mengenai Indonesia. "Orang-orang perbatasan lebih banyak tahu tentang negara sebelah (Timor Leste) daripada Indonesia," jelas Ans.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini