nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ekonomis, Pesawat Regio Prop Cocok di Langit Indonesia

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Senin 03 Desember 2012 11:03 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2012 12 03 56 726394 DgUVHocSWi.jpg Presdir PT Ilhabi Rekatama, Ilham Habibie sekaligus perancang Regio Prop (Foto: Runi Sari/Okezone)

JAKARTA - Masyarakat Indonesia bersiap dimanjakan dengan Regio Prop, armada angkasa sebagai pengembangan terbaru sekaligus perwujudan dari kobaran semangat pesawat terbang N-250 yang sempat terhenti lebih dari satu dasawarsa.

Pesawat buatan dalam negeri itu akan dilanjutkan pengembangannya melalui PT Regio Aviasi Industri yang digawangi oleh Ilham Akbar Habibie, putra sulung Presiden RI ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie.

Pesawat terbang ini memiliki keunggulan dari berbagai sisi, di samping cocok untuk kondisi geografis wilayah Indonesia, juga memiliki sisi ekonomis terkait harga tiket yang nantinya bisa semakin terjangkau.

Ilham Akbar Habibie, yang bertindak sebagai Program Director Regio Prop  kepada Okezone menegaskan, ide pembuatan pesawat terbang ini dimulai sejak 2004. Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, diperkirakan proyek ini menelan dana hingga USD500 juta (Rp4,8 triliun) untuk sekira 10 sampai dengan 12 armada pesawat terbang (Regio Prop).

Lalu apa yang membuatnya tertarik untuk melanjutkan proyek ini. Secara terknologi pesawat terbang tidak hanya menarik, tetapi juga dari sisi kompleksitas tingkat tinggi yang ada pada bidang pesawat terbang tersebut. Ia juga mengaku, mengimplementasikan rancangan pesawat terbang adalah tidak mudah.

“Ini menjadi tantangan tersendiri, karena untuk pengembangan ini butuh lima tahun, bisa Anda bayangkan ini terbilang cepat. Sementara banyak perusahaan seperti Boeing dan Airbus yang mengembangkan pesawat bisa sampai 7 hingga 8 tahun, karena kompleksitas, banyak juga tantangan  dari segi management, finance dan sebagainya,” jelasnya.

Kendati sulit dan terjal, kekecewaan Ilham beberapa tahun silam bakal terjawab, di mana waktu itu industri pesawat terbang nasional kurang mendapatkan apresiasi. Namun, lanjutnya, kini zamannya telah berbeda, banyak orang yang ditemuinya mendukung dan bersemangat untuk pengembangan pesawat terbang, khususnya pesawat terbang Regio Prop yang kini masih dalam fase konseptual.

“Bisa dilihat dengan mata kepala kita, apabila kita ke lapangan udara, itu sudah seperti stasiun bus. Jadi, ini menunjukkan bahwa banyak orang senang (dengan moda transportasi tersebut). Dulu mungkin orang tidak mengerti, kini orang biasa juga (memilih) naik pesawat, dan itu sangat bermanfaat,” tuturnya.

Dengan preferensi masyarakat yang lebih senang memilih pesawat terbang sebagai alat transportasi, maka menurutnya, ini menunjukkan daya beli masyarakat semakin meningkat. “Harga tiket pesawat tidak setinggi langit seperti dulu. Ini sudah sangat affordable (terjangkau),” tambahnya.

Pria kelahiran Jerman ini melihat masyarakat kini sudah mulai mengerti di Indonesia, perlu pesawat terbang. Sebab, pesawat terbang menurutnya sangat layak secara ekonomis, serta sangat mendukung untuk negara yang besar dan luas, seperti di Indonesia.

Orang kini mulai melihat, ternyata pesawat terbang itu sangat layak secara ekonomis dan pesawat yang diperlukan itu rupanya, yang selalu ia katakan “persis kijang terbang”. Namun, dengan harga yang relatif murah, handal, bandel, tidak cepat rusak, bisa terbang kemanapun dan mendarat di landasan bandar udara yang juga tidak terlalu panjang.

“Terkadang kendala yang ada, masih agak pendek landasan itu, untuk pesawat jet terlalu pendek. Oleh karena itu, ini menjadi salah satu keunggulan dari pesawat terbang baling-baling, (selain mendukung landasan yang tidak terlalu panjang), pesawat baling-baling bisa lebih murah, serta dari segi konsumsi bahan bakar lebih irit,” jelasnya.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini