Ilham: Teknologi dan Konsumerisme Berlebih Masyarakat Indonesia

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Senin 03 Desember 2012 15:15 WIB
https: img.okezone.com content 2012 12 03 56 726603 sqEPddb2IV.jpg Presdir PT Ilhabi Rekatama, Ilham Habibie sekaligus perancang Regio Prop (Foto: Runi Sari/Okezone)

JAKARTA – Gencarnya beragam produk asing yang menggempur Indonesia, baik langsung maupun tidak langsung, mampu menimbulkan sifat konsumerisme yang berlebihan di masyarakat.

Hal inilah yang mesti diwaspadai, di mana generasi muda saat ini diharapkan mampu menjadi pioneer terkait penciptaan karya maupun inovasi teknologi, yang bisa memberi manfaat atau kontribusi serta memiliki daya saing tinggi terhadap produk luar.

“Saya kira konsumerisme, bukan gejala yang hanya ada di Indonesia, tetapi juga di dunia. Ada pro dan kontra, jangan kita hanya selalu terjebak dalam konsumerisme, tetapi juga harus mampu produktif,” kata Presiden Director PT. Ilthabi Rekatama, Ilham Akbar Habibie yang ditemui Okezone di kantornya, di Mega Kuningan Jakarta.

Sebagai bangsa yang besar, kata Ilham, bangsa yang bukan karena memiliki jumlah populasi yang besar, tetapi karena ada karya bangsa, kontribusi kepada budaya serta industri.

“Teknologi dunia itu mesti ada, (dari anak muda dahulu), saya yakin bisa. Orang kita tidak bodoh, mungkin memang perlu arahan, karena kalau mereka dibiarkan maka tidak akan terarah,” ungkapnya.

Inovasi teknologi juga tidak terlepas dalam kaitannya dengan bidang entrepreneur. “Enterpreneur merupakan orang yang memiliki spesialisasi dalam suatu bidang atau teknologi. Mereka mau ambil peluang untuk menjadikan bisnis dari keunggulan teknologi yang dikembangkannya tersebut. Sehingga, dari keunggulan di bidang teknis atau bisnis, dijadikan satu usaha,” jelasnya.

Minim Investasi Penelitian dan Pengembangan

Lebih lanjut ia mengatakan, oleh karena daya saing menurun, maka pasar di Indonesia dibanjiri produk luar. “Ini karena penelitian dan pengembangan itu bukan cost, tetapi investasi. Orang tidak mau investasi, maka jangan heran suatu saat produknya akan kalah. Ini  harus memerlukan lompatan inovatif,” terangnya.

Kondisi pasar di Indonesia telah semakin terbuka, sementara pasar lain di Amerika atau Eropa sedang lemah, dan China juga mengalami hal yang sama. “Karena pasar tradisional di Amerika atau Eropa sedang menurun, maka mereka banjirkan produknya di kita. Namun, kenapa kita tidak bisa unggul di pasar sendiri?,” ungkapnya.

Ini akibat tidak adanya investasi ke pengembangan dan penelitian. Karena mengembangkan teknologi itu tidak harus yang selalu hi-tech atau canggih, namun justru harusnya mengedepankan teknologi yang tepat guna.

“Penelitian dan pengembangan itu bukan sesuatu yang tidak perlu, tetapi justru sangat perlu dan semakin lama semakin perlu. Karena beberapa tahun lagi, Asia semakin terintegrasi. Sehingga, tarif bea cukai semakin kecil, akan ada saingan dari Malaysia, Thailand, Singapura, dan sebagainya. Dan kita pasar terbesar, jauh 40 persen atau lebih dari Asia, adalah Indonesia. Tentu yang lain mengincar, karena pasar gemuknya di kita,” pungkasnya.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini