Jurnalisme "Sepotong-Sepotong" ala Media Online

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Kamis 07 Maret 2013 12:57 WIB
https: img.okezone.com content 2013 03 07 55 772328 0dIDK458nG.jpg Seminar New Media di Jakarta (foto: Ahmad Luthfi/Okezone)

JAKARTA - Media Online, tumbuh dan kian berkembang seiring dukungan akses internet yang bisa dicicipi masyarakat. Keunggulan media online dalam menyebarkan informasi dengan cepat, justru terkadang mengabaikan aspek penting mengenai akurasi pemberitaan.

Heru Margianto, tim peneliti dari Aliansi Jurnalis Indonesia AJI dalam penyampaian materinya di seminar New Media bertajuk "Pertumbuhan Pengakses, Bisnis dan Problem Etika" di hotel Morrissey Jakarta, Kamis (7/3/2013) mengatakan, aspek akurasi menjadi pokok utama pada setiap media, termasuk Media Online.

"Saya mencoba merumuskan kegamangan yang dihadapi media online Indonesia," kata Heru. Ia menceritakan satu kasus menarik yang terjadi beberapa tahun silam tentang pemberitaan Imanda Amalia (wanita WNI yang kabarnya meninggal akibat kerusuhan Kairo).

Ia mengungkapkan, pentingnya media online untuk melakukan cek dan ricek terhadap pemberitaan Imanda Amalia. Heru mengatakan, setelah ditelusuri asal-usul berita tersebut, ternyata itu berasal dari halaman Facebook oleh Science of Universe. "Setelah berita ini beredar, Indonesia heboh. Ternyata ini hoax atau unconfirmed," ujar Heru.

Ia mengungkapkan, berdasarkan studi tahun lalu, AJI mencoba menelaah media online. "Kita punya gaya jurnalisme baru. Kita merasakan kegamangan. Bagi mereka yang sudah lama di media online mungkin sudah terbiasa," ungkapnya.

Jurnalisme Sepotong-Sepotong

Ia menjelaskan, jurnalisme baru ini seharusnya tetap mendorong wartawan online untuk memverifikasi berita. "Akan tetapi di era ini, berita bukan uji verifikasi, tetapi verifikasi atas rumor itu adalah berita. Karena berita disajikan sepotong-sepotong," jelasnya.

Ia mengatakan, berita di media online, pembaca bisa saja belum tahu awalnya, mereka baru membaca bagian tengah isu berita tersebut. "Belum tahu endingnya, running update. Media online (tampak menganggap) kecepatan adalah segalanya," jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, trafik adalah aktivitas pembaca yang seolah menjadi 'agama' bagi para media online. "Semua tampak diarahkan kesana (trafik)," tambahnya.

Ia mengungkapkan, media online memang memiliki kepentingan dari sisi komersial. Trafik pembaca yang tinggi dianggap sebagai 'parameter utama', agar pihak pengiklan mau mengiklankan produknya pada media tersebut.

Ia mengatakan, umumnya media online memecah berita menjadi beberapa angle. Dianggapnya ini menjadi strategi untuk menaikkan trafik media tersebut.

"Ada berita berseri, itu semata-mata untuk naikin trafik, tetapi itu sah-sah saja," tuturnya. Namun, tetap verifikasi dan akurasi harus menjadi perhatian utama media online. Sebab, ini akan bersinggungan langsung dengan kode etik, baik tentang akurasi maupun substansi berita.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini