Cita-Cita Batan Bangun PLTN di Tanah Air

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Senin 20 Mei 2013 17:11 WIB
https: img.okezone.com content 2013 05 20 56 809822 WkoTbgVsGq.jpg Kantor Batan di Kuningan, Jakarta (foto: Ahmad Luthfi/Okezone)

JAKARTA - Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (Batan) masih menjadi "mimpi" bagi Badan Teknologi Nuklir Nasional atau yang biasa disingkat Batan. Djarot Sulistio Wisnubroto, Kepala Batan di Jakarta, Senin (20/5/2013) menyampaikan dalam media briefing atau pengumuman launching kegiatan menyambut hari Ulang Tahun Batan ke-55.

Batan merupakan lembaga pemerintah non-kementerian yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian, pengembangan dan pemanfaatan tenaga nuklir. Lahir pada 1958, Batan hanya melaksanakan kegiatan yang bermaksud damai dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan manusia.

Dalam acara media briefing tersebut, Djarot mengungkapkan informasi mengenai pencapaian yang dilakukan Batan. "Kita punya reaktor riset di Serpong. Yang kedua dalam bidang pangan untuk menghasilkan 20 variates padi," kata Djarot.

Menurutnya, 20 varietas padi ini merupakan 10 persen dari total varietas padi nasional. Selain itu, hal yang dilakukan Batan seperti pengumpulan data mengenai tingkat radiasi nuklir di berbagai wilayah di Tanah Air.

"Ke depan, pembangkit listrik tenaga nuklir menjadi mimpi kami. Ini menjadi otoritas dari kebijakan energi. Kita juga nggak ingin terjebak dari PLTN saja," tutur Djarot.

Ia menambahkan, Batan juga melakukan penelitian tentang analisis polusi udara. Menurutnya, Nuklir bisa sangat bermanfaat sebagai alternatif energi apabila dibangun PLTN di Indonesia.

"Tenaga nuklir tenaga besar, tidak praktis untuk motor atau mobil, kecuali untuk kapal selam, di negara lain bisa (kapal selam itu) dengan persenjataan nuklir. Energi nuklir memberikan daya yg besar untuk waktu yang lama," jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, cita-cita Batan, nuklir menjadi salah satu opsi pemenuhin energi di indonesia. "Kita sudah promosi dan sosialisasi, mempersiapkan infrastruktur serta studi kelayakan," sambungnya.

Menurutnya, secara teknis Batan akan menyerahkan pembangunan PLTN itu ke pemerintah. "Kita gak punya wewenang untuk bangun PLTN," imbuhnya.

Lebih lanjut Djarot menjelaskan, pihaknya berupaya berkomunikasi dengan para stakeholder. "Misalnya nanti di 2013, ke ESDM, ke DPR RI Komisi 7 atau pemerintah yang lebih tinggi," terangnya.

Ia mencontohkan, di Uni Emirat Arab, sistem untuk pembangunan energi nuklir atau PLTN tidak seperti di Indonesia. "Mereka langsung hire (pekerjakan) dari luar negeri, yang paling bagus, langsung bangun," tambahnya.

Di Indonesia, selain tampaknya dibenak masyarakat nuklir masih dianggap sesuatu yang "mengerikan, serta sikap 'kemandirian' yang menurutnya menjadi kendala terkait proses pembangunan PLTN di tanah air.

Batan juag telah melakukan studi di wilayah Babel untuk meneliti kandungan unsur yang berkaitan dengan nuklir, seperti uranium, torium atau kalium. Djarot mengungkapkan, studi ini akan menentukan layak atau tidak layak PLTN akan dibangun di Indonesia.

"Di babel, uji layak atau tidak layak (ditentukan) di 2013. Kami dengan masyarakat adain promosi, jajak pendapat, dengan DPR RI Komisi 7 cukup bagus komunikasi dan mendukung kita. Untuk kebijakan energi nasional kita terlibat nyusun (draft) energi nasional. Semoga draft muncul di 2013. Masyarakat juga termasuk stakeholder disamping pemerintah," pungkasnya.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini