Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cuaca Tak Menentu, Wajarkah?

Ayunda W Savitri, Jurnalis · Jum'at 31 Mei 2013 10:44 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2013 05 31 56 815465 c9UOGP00zS.jpg ilustrasi cuaca di Jakarta (foto: Okezone)

DERAS-nya hujan disertai gemuruh petir seakan tidak menghentikan aktivitas ibu kota meski untuk sejenak. Jalanan tetap dipenuhi jutaan kendaraan, dan ribuan manusia juga tetap memadati jalanan sekitar gedung pencakar langit.

Tak lama kemudian, hujan pun berganti matahari yang seakan tak sabar menyapa dunia beserta seisinya. Tanpa basa-basi, teriknya sinar matahari membuat sebagian dari mereka seolah merasa "terbakar" dan butir-butir keringat membasahi keningnya pertanda kepanasan.

Kita pasti bertanya-tanya mengapa cuaca demikian cepat berubah. Adakah kaitannya dengan pemanasan global seperti yang banyak diisukan beberapa dasawarsa akhir ini. Jawabannya adalah Iya.

Data yang diperoleh Okezone.com dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), menunjukkan sudah ada indikasi pemanasan di Indonesia. Begitu pun dengan perubahan iklim yang juga sudah terlihat dari beberapa parameter yang ada.

Menurut Thomas Djamaluddin dari Riset Astronomi Astrofisika LAPAN, kenapa pemanasan yang terjadi pada wilayah perkotaan cenderung lebih panas dibandingkan daerah di sekitarnya, atau biasa disebut sebagai fenomena pulau panas perkotaan.

“Hal ini dikarenakan adanya perubahan tata guna lahan, sehingga berdampak pada panas yang diserap oleh permukaan bumi dipancarkan lagi menjadi inframerah ke udara,” kata Thomas Djamaluddin kepada Okezone.

Kepala Bidang Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Haradi mengatakan bahwa perubahan mendadak dari hujan ke panas secara tiba-tiba adalah wajar dan masih dalam batas normal.

Menurutnya, ini merupakan proses transisi di masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, di mana perpindahan dari musim penghujan ke musim kemarau diiringi dengan lambaian pola tekanan udara yang menyebabkan munculnya awan hujan.

“Memang agak menyimpang dari biasanya. Tapi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk warga di Jakarta dan sekitarnya karena tidak berpotensi untuk banjir dalam skala besar atau mendatangkan angin kencang,” ungkapnya kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

Lalu apa penyebab di balik semua ini? Meski ini merupakan proses alamiah, tetapi adakah campur tangan manusia sehingga menyebabkan 'kegalauan' antara matahari dan hujan ini?

Tentu saja ada, banyaknya polusi yang dihasilkan baik dari kendaraan maupun asap pabrik dan banyaknya jumlah gedung-gedung bertingkat yang merupakan wajah khas ibu kota menyebabkan sirkulasi angin berubah. Sehingga, efeknya dalam jangka panjang akan dirasakan oleh warga Jakarta secara perlahan.

Terlebih, saat ini bumi pertiwi diselimuti kandungan karbon dioksida (CO2) yang semakin meningkat di udara akibat aktivitas manusia, cerobong asap industri, transportasi perkotaan dan rumah tangga.

Thomas sendiri mengestimasikan, faktor transportasi merupakan penyumbang emisi terbesar terhadap fenomena perubahan ini.

Ulah Manusia

Para ilmuwan juga menyimpulkan bahwa iklim global saat ini memanas dengan cepat. Peneliti yakin bahwa 90 persen pemanasan global itu diakibatkan ulah manusia. Kesimpulan itu juga terdapat dalam laporan Panel Antar Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) 2007.

Bahaya dari perubahan iklim ini ialah mudahnya terjadi genangan air di permukaan akibat semakin menyempitnya daerah resapan. Tidak mengherankan, meski hujan yang menyirami ibu kota berlangsung singkat tetapi dapat menimbulkan banjir di beberapa titik.

Selain itu, hal ini juga menyebabkan kondisi persediaan air dalam tanah semakin berkurang. Dampak lainnya yang berbahaya adalah terjadinya penurunan permukaan tanah.

“Aktivitas manusia menyebabkan kerusakan lingkungan. selanjutnya kerusakan lingkungan akan mempengaruhi dinamika atmosfer. Kemudian perubahan atmosfer tersebut akan berdampak pada siklus hidrologi yang akan mengurangi kenyaman hidup manusia,” tutup Thomas.

Akankah kita masih akan membiarkan bumi pertiwi semakin sakit karena 'siksaan' manusia itu sendiri? Sudah sepatutnya kita harus melindungi Bumi sebagai wujud terima kasih terhadap berkah dan anugerah-Nya.

Kini, saatnya manusia bersama-sama untuk mengurangi suhu 2 derajat celsius agar terhindar dari bahaya yang diakibatkan perubahan iklim jangka panjang. Selain itu, perlu dilakukan stabilisasi konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) di bawah 450 ppm (bagian per juta).

 

Caranya, mengurangi efek gas rumah kaca (GRK) yang bersumber dari pembakaran dan pembukaan hutan tropis, melindungi ekosistem bumi serta melindungi hutan perawan dari si jago merah dan pembukaan hutan tropis di dunia.

Dengan mengurangi deforestasi (penebangan hutan) global sebesar 50 persen pada tahun 2020, akan menawarkan hampir sepertiga dari pilihan hemat biaya teknologi yang tersedia untuk memenuhi target 450 ppm stabilisasi di bumi pertiwi. Demikian dikutip dari Conservation.org.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini