Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fenomena Kemarau Basah "Menghantui" Penduduk Bumi

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Rabu 05 Juni 2013 12:44 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2013 06 05 56 817768 uL7Ow7Yzhc.jpg ilustrasi

LONDON - Beberapa negara mengalami apa yang disebut dengan kemarau basah. Kemarau basah diartikan sebagai musim yang seharusnya mengindikasikan tanda-tanda kering, malah justru diguyur dengan hujan atau temperatur udara yang rendah.

Cuaca tak menentu ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga terjadi di belahan Bumi lainnya, seperti Inggris misalnya. Seperti diberitakan website Telegraph, yang dikutip Rabu (5/6/2013), melaporkan bahwa pola cuaca tak menentu ini juga terjadi di tahun lalu, di mana musim panas atau kemarau diiringi dengan hujan deras.

Emma Compton dari prakiraan cuaca Met Office yang berbasis di Inggris mengatakan, terdapat hujan yang menyebar di negeri Ratu Elizabeth tersebut. Meskipun tidak deras, namun hujan tersebut bisa terjadi di siang hari dan malam hari.

Pada kondisi hujan, temperatur akan turun menjadi 6 celcius (42,8 fahrenheit). Temperatur tersebut 10 celcius lebih dingin ketimbang suhu rata-rata maksimal. Sementara di bagian Timur dan Utara Inggris, suhu akan lebih dingin dari biasanya sekira 10 sampai 12 celcius.

Pola cuaca 'siklon' hujan ini bisa berlangsung selama sepekan. Met Office mengungkap bahwa aliran jet (jet stream), yang merupakan kelompok angin bisa berperan untuk menghasilkan awan hujan. Kelompok angin tersebut bergerak melintasi Atlantik dari barat ke timur. Inilah yang membawa hujan serta angin.

Biasanya aliran jet bisa bergerak lebih jauh ke utara, yang berarti utara dan barat cenderung memiliki suhu lebih dingin atau cuaca basah. Sedangkan untuk wilayah tidak diterpa aliran jet tersebut, mengalami kondisi cuaca yang cerah.

Akan tetapi, para ahli di Inggris mengatakan bahwa aliran jet ini menuju selatan dari biasanya. Sehingga, fenomena ini mengakibatkan kemarau basah. Inilah yang terjadi di tahun lalu. Tampaknya pola serupa juga terjadi untuk kemarau di tahun ini.

"Cuaca tidak menentu ini karena aliran jet menjadi lebih jauh ke selatan ketimbang biasanya," ungkap Reid Morrison dari Met Office. Ia mengatakan, fenomena aliran jet menuju ke selatan memungkinan sistem tekanan rendah untuk bergerak di sepanjang wilayah Inggris.

Salah satu teori mengungkap bahwa aliran jet ini bisa didorong ke selatan oleh mencairnya es dari Arktik (kutub utara) dan mengakibatkan perubahan iklim. Mencairnya es di kutub juga bisa diakibatkan oleh fenomena Global warming atau pemanasan global, yang juga menunjukkan bahwa air laut tengah menghangat.

Meningginya suhu air laut berarti lebih banyak air yang menguap. Oleh karena itu, kelembaban udara bisa meningkat serta mampu memunculkan hujan.

Batas Normal

Seperti yang pernah diberitakan sebelumnya bahwa cuaca dapat cepat berubah memiliki keterkaitan dengan pemanasan global. Peneliti yakin bahwa 90 persen pemanasan global itu diakibatkan ulah manusia. Kesimpulan itu juga terdapat dalam laporan Panel Antar Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) 2007.

Kepala Bidang Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Haradi mengatakan bahwa perubahan mendadak dari hujan ke panas secara tiba-tiba adalah wajar dan masih dalam batas normal.

Menurutnya, ini merupakan proses transisi di masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, di mana perpindahan dari musim penghujan ke musim kemarau diiringi dengan lambaian pola tekanan udara yang menyebabkan munculnya awan hujan.

“Memang agak menyimpang dari biasanya. Tapi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk warga di Jakarta dan sekitarnya karena tidak berpotensi untuk banjir dalam skala besar atau mendatangkan angin kencang,” ungkapnya kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini