Share

Berbagai Tantangan Penerapan LTE di Indonesia

Andina Librianty, Jurnalis · Rabu 17 Juli 2013 11:58 WIB
https: img.okezone.com content 2013 07 17 54 838192 bEPcDb2npy.jpg Ilustrasi (Foto: IBTimes)

JAKARTA – Teknologi Long Term Evolution (LTE) dinilai memiliki banyak potensi dan bisa menciptakan real broadband di Tanah Air. Namun karena masih dalam tahap awal di Indonesia, realisasi teknologi 4G masih menghadapi berbagai tantangan sebelum bisa dikomersialkan.

Sebelum LTE terealisasi dan komersial, ada sejumlah tantangan yang akan dihadapi, termasuk kebutuhan bandwith operator, biaya migrasi , harga akses data, dan keamanan. Saat ini, kata Ismail, operator selular di Indonesia merasakan stagnan dengan spektrum terbatas, perang tarif voice, SMS, dan data.

Follow Berita Okezone di Google News

“Lalu kalau LTE sudah ada apakah akan bisa menyelesaikan masalah? Apakah sudah tepat waktu? Jangan sampai nanti kita justru membayar biaya proses edukasi,” tutur Direktur Telekomunikasi Kemenkominfo Ismail, dalam acara Diskusi LTE Indonesia: Teknologi, Regulasi, Ekspansi & Aplikasi di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa sore (16/7/2013).

Kesiapan finansial, kata Ismail, juga harus menjadi perhatian para operator jika ingin menerapkan LTE. Menurutnya, jangan sampai hanya mengikuti arus, tapi belum ada kesiapan dana.

“Kalau nanti LTE sudah ada, bagaimana penerapan biayanya. Selain itu, keamanan internet juga harus diperhatikan, jangan sampai dibobol. Implementasi LTE bukan hanya dari segi infrastruktur, tapi juga ekosistem lainnya seperti keamanan dan pembangunan. Hal ini yang harus kami rangkai sebagai regulator,” jelasnya.

Ismail mengungkapkan, pihaknya saat ini sedang mengerjakan berbagai regulasi, termasuk soal jaringan, Over The Top (OTT), dan interkoneksi. Semua regulasi itu, saling melengkapi dengan National Broadband Plan. “LTE merupakan bagian dari National Broadbang Plan,” tambah Ismail.

Di luar tantangan, LTE disebut bisa membantu mengatasi berbagai isu umum komunikasi di Indonesia saat ini, termasuk kecepatan internet yang dinilai masih lambat, harga yang mahal, dan kualitas akses yang terbatas.

Sementara itu, di sisi operator, dalam hal ini Telkomsel telah lama menunjukkan keinginannya untuk segera menggelar LTE. Operator yang khas dengan warna merah itu menyatakan bahwa spektrum 1.800MHz merupakan yang paling memungkinkan untuk implementasi LTE dalam waktu dekat ini.

“LTE itu terbuka dimana-mana, tapi yang paling memungkinkan untuk implemetasi dalam waktu dekat ini di 1800MHz. Harus direstruktur dulu karena jika contiguous akan lebih efisien. Jadi 2G kami di 1.800MHz jika ingin beralih ke LTE harus di-refarming dahulu,” ungkap VP Network and Service Assurance Management Telkomsel Hanang Setiohargo.

Sementara teknologi 4G sedang dipersiapkan, penggunaan jaringan 3G Telkomsel ternyata belum terlalu luas. Diungkapkan Hanang, coverage 2G Telkomsel lebih tinggi dibandingkan 3G, begitu juga dengan jumlah pengguna 3G dari total pelanggan Telkomsel.

“Kami terus mengelola 3G di Indonesia. Dari 125 juta pelanggan kami, sekira 55 juta diantaranya teregister sebagai pengguna data, yang umumnya menggunakan 3G,” jelasnya.

Lebih lanjut, menurut catatannya, saat ini telah ada sekira 430 ribu perangkat yang kompatibel dengan LTE di Indonesia. Perangkat yang telah ada dengan sendirinya itu, bisa membantu penetrasi LTE jika telah diterapkan dan komersial.

 

(adl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini