Pro & Kontra Monogami Antar Mamalia

Ayunda W Savitri, Jurnalis · Rabu 31 Juli 2013 18:02 WIB
https: img.okezone.com content 2013 07 31 56 845242 9hY62MXrBl.jpg (Foto: Wired)

LONDON – Monogami (memiliki satu pasangan untuk seumur hidup) pada beberapa mamalia hingga kini masih menjadi teka-teki evolusi yang diperdebatkan. Para ilmuwan  dari University College di London mengatakan bahwa gen memiliki peranan yang besar dalam hal ini.

Sebab, gen yang merupakan pembawa sifat akan mempengaruhi perilaku. Di mana, terdapat satu gen yang menentukan jenis reseptor vasopressin atau hormon neurohypophysial di otak pada sebagian besar mamalia. Itulah mengapa sebagian ilmuwan berpendapat bahwa jarang ada mamalia dapat bermonogami.

Disadur The Hindu, Rabu (31/7/2013), mamalia betina memiliki periode kehamilan yang lama untuk menghasilkan keturunan. Sementara, di saat yang sama para pejantan tidak memiliki beban secara fisik sehingga tidak menutup kemungkinan untuk membuahi banyak betina lainnya.

Para ilmuwan mengajukan tiga hipotesis untuk memahami perilaku hewan mamalia ini. Pertama, alasan mereka bermonogami karena keinginan sang ayah membantu merawat anaknya sehingga dapat meningkatkan peluang mereka untuk bertahan hidup.

Kedua, jumlah betina dalam suatu lingkungan yang melimpah sehingga sulit bagi si pejantan untuk tidak memiliki lebih dari satu pasangan. Terakhir, alasan bermonogami mungkin dipilih sebagai upaya hewan jantan untuk melindungi anak-anak dari predator lain yang ingin menghentikan penyebaran genetiknya.

Untuk sementara, tim peneliti menduga alasan yang paling masuk akal untuk bermonogami lebih dikarenakan untuk melindungi anak-anaknya. Di mana ketika hewan betina melahirkan dan memiliki bayi maka sang ayah akan menjadi “bapak kerumahan” dengan berperilaku setia untuk bersama-sama merawatnya, tetapi ketika musim kawin datang maka ada kemungkinan untuk terjadinya pembunuhan bayi.

“Masa-masa yang paling rentan adalah ketika si betina dalam masa menyusui. Selama masa tersebut biasanya ia akan menunda kembalinya berovulasi. Sementara jika bayinya mati, wanita akan mulai berovulasi lebih cepat,” jelas salah seorang peneliti Christopher Opie.

“Nah, ini menjadi situasi yang menguntungkan si jantan untuk  melakukan hubungan intim karena besar kemungkinan untuk meneruskan gennya ke generasi berikutnya,” lanjutnya.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini