Ilmuwan: Di Masa Depan Pria dapat Melahirkan?

Ayunda W Savitri, Jurnalis · Sabtu 24 Agustus 2013 05:01 WIB
https: img.okezone.com content 2013 08 23 56 854532 0qWNYyZZ1O.jpg (Foto: Dok. Okezone)

KYOTO – Para ilmuwan dari Kyoto University di Jepang mengatakan adanya kemungkinan bagi mereka untuk menumbuhkan sel reproduksi laki-laki (sperma) dari perempuan dan sel telur (ovarium) dari laki-laki di masa depan.

Peneliti bernama Katsuhiko Hayashi belum lama ini melakukan uji coba di laboratorium dengan mengubah sel-sel kulit pada tikus menjadi sel germinal primordial (PGC). Adapun, pengertian dari PGC itu sendiri adalah sel biologis yang dapat menghasilkan gamet dari organisme yang diproduksi secara seksual.

Dilansir The Independent, Jumat (23/8/2013), sel-sel tersebut yang nantinya akan menjadi prekursor (senyawa) dari sel kelamin laki-laki dan perempuan untuk dikembangkan menjadi sperma dan telur melalui teknik in vitro fertilization (IVF). Meski masih dalam tahap awal, namun tingkat keberhasilan teknik ini cukup mengejutkan.

Bersama-sama dengan Profesor Mitinori Saitou, mereka menunjukkan bahwa sangat memungkinkan bagi perempuan infertil (kurang subur) untuk memiliki bayi dengan cara menghasilkan sperma dan sel telur dari sel kulitnya.

Prosesnya dimulai dengan mengekstraksi (memisahkan) sel induk berpotensi majemuk (untuk perkembangan embrio) pada tikus dengan sel somatik. Kemudian, sel induk diubah menjadi PGC menggunakan ‘molekul sinyal’.

Selanjutnya, sel-sel germinal tersebut ditransplantasikan ke ovarium dan testis tikus untuk berkembang. Setelah sel tersebut matang dan diekstraksi, maka bisa digunakan untuk membuahi satu sama lain dengan teknik IVF.

Melihat keberhasilan itu, para ilmuwan di seluruh dunia berpikir untuk mengimplementasikannya kepada manusia. Diungkapkan David Cyranoski dalam artikel Scientific American, meski risiko kecacatan pada sel telur itu ada tetapi PGC dinilai telah berhasil menciptakan bayi tikus.

“Tantangan terberatnya adalah mengulangi keberhasilan PGC pada tikus ke manusia. Sebab, ‘molekul sinyal’ yang digunakan untuk membuat PGC pada manusia jauh lebih rumit daripada untuk tikus,” jelas Cyranoski.

Saat ini tim peneliti Jepang yang dipimpin oleh Saituo dan Hayashi sedang menguji embrio monyet. Hayashi memprediksi penelitian terhadap jenis primata ini bisa sukses dalam lima sampai 10 tahun lagi sebelum benar-benar mengimplementasikan PGC ke manusia.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini