Merkuri Bisa Sebabkan Kematian Penambang di Indonesia

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Jum'at 27 September 2013 14:03 WIB
https: img.okezone.com content 2013 09 27 56 872761 pixPYI0gsm.jpg Mercury (Foto: Wikimedia)

JAKARTA - Professor Takanobu Inoue dari Department of Architecture and Civil Engineering, Toyohashi Tech melakukan penelitian survei mengenai racun merkuri yang ada di Indonesia. Penelitian ini telah dilakukan selama lebih dari satu dekade.

Temuan Takanobu mengungkap implikasi serius dan situasi yang tidak kunjung membaik. "Sumber utama polusi merkuri saat ini ialah pertambangan emas skala kecil," kata Takanobu, yang merupakan ahli lingkungan air, seperti dikutip Sciencedaily, Jumat (27/9/2013).

Ia mengatakan, pertambangan emas adalah mudah untuk dipelajari dan sederhana untuk dioperasikan. "Jadi, orang yang hidup di garis kemiskinan, (pekerjaan) ini menawarkan harapan untuk masa depan," tutur Takanobu.

Lebih lanjut ia mengatakan, bila tidak ada teknologi canggih yang tersedia, maka pertambangan emas ini hanya mencampurkan merkuri dan air dengan bijih emas untuk membentuk amalgam (larutan logam dengan air raksa).

Campuran ini kemudian dipanaskan untuk menghilangkan merkuri dengan cara penguapan. Menurutnya, proses ini kemungkinan tanpa adanya penyaringan dan air yang mengandung residu merkuri biasanya dibuang langsung ke sungai.

Merkuri merupakan logam berat yang dapat menyebabkan kecacatan dan kematian para penambang. Air yang terkontaminasi residu merkuri, kemudian mengenai pakaian atau benda lainnya inilah yang bisa menimbulkan penyakit.

Penelitian menunjukkan, merkuri bisa menyebabkan keracunan kronis yang dapat merusak ginjal dan sistem reproduksi. Merkuri juga berbahaya bagi paru-paru serta sistem saraf pusat.

"Hal ini diperlukan untuk mendidik orang-orang tentang bahaya keracunan merkur. Namun, ada beberapa peneliti lingkungan di negeri ini, dan peralatan yang mereka miliki untuk menguji keracunan adalah terbatas," kata Takanobu.

Takanobu telah berbagi temuannya dengan profesor di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Ia mendorong para ilmuwan Tanah Air untuk bergabung dengan Indonesia Society of Water and Aquatic Environment, di mana informasi bisa diberikan dan makalah ilmiah mengenai polusi bisa disajikan dan dipublikasikan pada konferensi.

"Kita perlu lembaga penelitian untuk berkolaborasi satu sama lain untuk memfasilitasi kajian menyeluruh atas pencemaran merkuri di Indonesia. Kerjasama tersebut akan memungkinkan pemantauan konsentrasi merkuri dalam pertambangan emas dan dampak dari polutan lingkungan pada masyarakat setempat," jelasnya.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini