Jumlah Spam Email Terus Bertambah

Andina Librianty, Jurnalis · Kamis 26 Desember 2013 13:57 WIB
https: img.okezone.com content 2013 12 26 55 917681 1Ig59SakSz.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

JAKARTA - November lalu, malware paling banyak digunakan untuk mencuri data-data penting. Untuk melakukan ini, para penjahat cyber menggunakan laman Internet palsu yang menyerupai perusahaan komersial besar, bank, dan toko-toko online.

 

Spammer juga mengirimkan banyak program berbahaya yang disamarkan sebagai pesan suara di dalam arsip ZIP. Penipuan semacam ini menggunakan surat yang tampak seperti dikirim melalui Skype. Arsip yang dilampirkan berisi program spyware yang mencuri cookies browser serta password untuk FTP client dan akun email. Seluruh data yang berhasil dicuri kemudian dikirim ke para pelaku.

 

Para pelaku juga mencuri informasi atau kredensial perbankan langsung dari komputer pengguna. Begitu terunduh di perangkat pengguna, file-file berbahaya akan langsung terkirim ke alamat email yang ada di perangkat tersebut, atau mengunduh dan menjalankan file dari Internet tanpa sepengetahuan korban.

 

Kaspersky Lab mengungkapkan bahwa jumlah spam dalam total lalu lintas email pada November mencapai 72,5persen, hampir 10 persen lebih tinggi dibanding November tahun lalu yang berjumlah 62,9persen. Kebanyakan lampiran email berbahaya tercatat terjadi di Inggris yang memicu pendeteksian antivirus email sebesar 12,3persen. Dengan kenaikan lampiran email berbahaya sebesar 2,4 persen bulan lalu, Inggris berada di atas Jerman (11,2persen) dan Amerika Serikat (10persen).

 

Jumlah spam bertema Natal dan Tahun Baru juga terus meningkat seiring maraknya perayaan kedua hari besar tersebut.

 

“Pada minggu-minggu menjelang liburan terlihat kenaikan jumlah pembelian dan kegiatan finansial yang dilakukan via Internet. Inilah mengapa para scammer meningkatkan jumlah phishing dengan harapan para penerima email dari pelaku tidak begitu waspada,” ujar Senior Spam Analyst Kaspersky Lab, Tatyana Shcherbakova, dalam keterangan resminya, Kamis (26/12/2013).

 

Jenis perusahaan yang menjadi sasaran para pelaku tidak berubah, yaitu jejaring sosial (26,9persen), layanan email (19,2persen), dan mesin pencari (16,5persen) menjadi tiga sasaran teratas. Perusahaan finansial dan pembayaran online (16,1persen) berada di tempat keempat dan jumlahnya terus meningkat. Pada November lalu jumlahnya naik 0,7 persen. Australia and New Zealand Banking Group (ANZ) kembali menjadi target dengan adanya laman phishing yang menyerupai situs resmi perusahaan tersebut.

 

Kejadian-kejadian menyedihkan di seluruh dunia hampir selalu dieksploitasi oleh para pelaku, termasuk topan yang menghancurkan Filipina bulan lalu. Para pelaku mengirimkan ‘Nigerian letter’ yang mengeksploitasi nama Palang Merah Internasional untuk meminta bantuan bagi para korban.

 

Sementara itu, China, dengan kenaikan 2 persen, tetap menjadi sumber utama pengirim spam. Amerika Serikat berada di tempat kedua dengan 18persen dari total spam global, diikuti oleh Korea Selatan (14,5persen), dan Taiwan (6,7persen). Rusia (5,4persen), yang mengalami kenaikan 1,4 poin, tetap berada di posisi kelima. Para pakar mencatat ada sedikit penurunan spam yang berasal dari Kanada (-0,4 persen), sehingga membuat Jepang masuk menggantikan Kanada di 10 Besar pengirim spam dunia.

(adl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini