Nuklir Bisa Mengobati Penyakit Kanker Ganas

Amril Amarullah, Jurnalis · Kamis 14 Agustus 2014 14:32 WIB
https: img.okezone.com content 2014 08 14 56 1024474 d8ofycSg4K.jpg Presentasi Batan terkait teknologi nuklir untuk kesehatan/Foto: Amril Amarullah-okezone

PONTIANAK - Aplikasi teknologi nuklir ternyata bukan hanya mampu memberikan energi seperti pembangkit listrik untuk proses industri saja. Nukilir ternyata mampu juga dikembangkan secara khusus di bidang kesehatan salah satunya therapy penyakit kanker.

Dalam perjanjian kerjasama yang dilakukan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bersama dengan Universitas Tanjungpura (Untan), Pontianak, hari ini, Kamis (14/8/2014), dapat menjadi landasan bahwa Indonesia mampu mengembangkan alat dan pengobatan kanker terbaru yakni, Boron Neutron Capture Cancer Therapy (BNCT).

Peneliti utama Batan, Prof. Yohanes Sardjono mengatakan, metode BNCT ini telah mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dan bila proyek ini terlaksana, Indonesia adalah negara keempat di Asia, setelah Jepang, Taiwan dan Korsel yang mengembangkan metode ini, di dunia Indonesia ke-14.

Dengan demikian BNCT ini diharapkan akan menjadi terapi yang sangat efektif untuk mengobati beberapa jenis kanker seperti kanker otak ganas, yang sejauh ini belum ada keberhasilan pada pengobatan yang telah dikembangkan.

"Kedepan, ini metode ini (BNCT) bisa berfungsi efektif untuk mengobati kanker payudara yang jumlahnya relatif banyak, selain juga mampu berfungsi efektif menurunkan morbiditas maupun mortalitas kanker payudara di Indonesia," jelas Yohanes.

Adapun konsep dari metode BNCT ini, kata Prof Yohanes, didasarkan pada reaksi nuklir yang terjadi ketika inti boron dengan neutron termal dan menghasilkan dua partikel yang memiliki Linear Tansfer (LET) tinggi yakni, partikel alfa dan partikel ion Litium.

Dimana reaksi ini menghasilkan dosis radiasi primer. Sehingga tidak perlu khawatir, partikel ini tidak akan merusak sel-sel yang sehat lainnya ketika disuntikan ke dalam tubuh, tetapi hanya akan merusak sel kanker saja.

Berbeda dengan pengobatan pada umumunya, seperti pembedahan (operasi), radioterapi dan terapi sistemik (kemoterapi). "Tetapi itu hanya bisa efektif untuk sejumlah kecil kanker yang ganas," jelasnya.

Dalam metode ini, pertama-tama Boron disuntikkan ke dalam aliran darah dan akan terkumpul dalam sel kanker. Tahap selanjutnya dari pengobatan adalah iradiasi pada sel kanker dengan neutron energi rendah, yang dapat meningkatkan dosis radiasi sekitar 2 hingga 3 kali, sehingga dosis rendah radioterapi neutron dapat diberikan.

"Sehingga memperkecil kemungkinan bahwa neutron akan menyebabkan kerusakan pada bagian tubuh lainnya," tuturnya.

Biaya dan Proses

Yohanes menjelaskan, biaya yang dibutuhkan sekira  Rp33 miliar untuk  4 tahun ke depan. Itupun hanya untuk proses riset saja, alatnya beda lagi.

Sementara tahap pertama untuk pengembangan BNCT ini adalah melakukan pengujian senyawa Boron dari Neopanora Hong Kong Research and Development Center (NHK) di reaktor Kertini Batan, dan secara parallel mengembangkan analog kurkumin yang tersubstitusi karboranil sebagai senyawa koron BNCT melalui kondensasi karbonil aldol, dilanjutkan pengujian Vitro dan In vitro tanpa sistem BNCT dan tahap berikutnya adalah sistem BNCT.

"Kalo dirunut keseluruhan ada tiga tahap yang harus dilalui untuk bisa menghasilkan metode yang dinamakan BNCT itu, dan waktu yang dibutuhkan juga tidak sedikit, target 2017 bisa terealisasi,"  pungkasnya.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini