Indonesia Miliki 60 Ribu Ton Kandungan Uranium yang Terlupakan

Amril Amarullah, Jurnalis · Jum'at 15 Agustus 2014 11:44 WIB
https: img.okezone.com content 2014 08 15 56 1024922 ETjaCfa3ox.jpg Indonesia Miliki 60 Ribu Ton Kandungan Uranium yang Terlupakan (Foto: Okezone)

PONTIANAK - Badan Tanaga Nuklir Nasional (Batan) memastikan 60.000 ton cadangan bahan energi uranium tertanam di bumi Indonesia. Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah yang dengan cadangan uraniumnya paling potensial, terbesar dengan jumlah 25.436 ton (data Mei 2014).

Hanya saja sejak diberlakukannya  UU No.10 Tahun 1997, potensi uranium sebesar itu tidak bisa di ekploitasi untuk kepentingan komersil, meskipun dalam UU tersebut diatur bahwa penyelidikan uranium, ekplorasi dan ekploitas bahan galian hanya dilakukan oleh Batan.

"Artinya UU tidak memperbolehkan Batan melakukan eksplorasi, melainkan hanya sebatas penyelidikan mengenai adanya potensi besar kandungan uranium yang dimiliki Indonesia," ujar Kepala Divisi Ekplorasi Batan, Ngadenin Hadisuwito menjawab pertanyaan Okezone, di Pontianak, Jumat (16/8/2014).

Padahal, kata Ngadenin, jumlah tersebut cukup besar. Sehingga banyak pihak asing dan juga swasta yang menyatakan kesiapannya untuk bekerjasama. Bahkan sejumlah negara siap membiayai proses eksplorasi, hingga siap membantu mengajukan ke pemerintah agar mengubah UU yang ada.

Hanya saja, sambung Ngadenin, sejak 2003 upaya Batan untuk meminta pemerintah pusat baik melalui peraturan pemerintah yang diajukan ke Mensesneg di tolak, hingga membuat peraturan presiden tetap saja di tolak.

"Yang kami ajukan dan persiapkan agar membuka tambang uranium ini menjadi komersil dengan mengubah undang-undang yang lama," ungkapnya.

Karena apa, Ngadenin mengatakan, bila UU itu belum diubah, sampai kapanpun ini tidak akan bisa berjalan. "Saya tidak tahu persis alasannya, tetapi memang selalu saja bila berkaitan dengan Nuklir itu sangat susah," tambahnya.

Ngadenin melanjutkan, selain terbentur UU, masalah lain yang menjadi kesulitan Batan adalah mengenai keterbatasan anggaran riset.

Butuh dana besar pastinya. Ngadenin mencontohkan, setiap pengeboran di lokasi-lokasi potensial uranium, untuk satu meter lubang pengeboran dibutuhkan Rp2 juta, di Kalimantan ini, mencapai  400-600 meter kedalamannya. Pastinya sangat besar, sementara anggaran yang diterima untuk penelitian hanya Rp5 miliar.

Belum lagi peralatan dengan teknologi yang mumpuni, ditambah SDM yang harus memiliki kompetensi baik, tidak asal-asalan, karena menyangkut keselamatan.

Terpisah, Kepala Batan, Djarot Sulistiyo Wisnubroto mengatakan, sangat sulit saat ini memang untuk mewujudkan agar uranium itu dapat di eksploitasi secara komersil, selain karena undang-undang yang tidak membolehkan, ditambah lagi belum semua pihak pro nuklir.

"Sehingga itulah yang menjadi kendala sekaligus tantangan kami (Batan). Padahal menurut data dan hasil kajian, Indonesia terutama Kalimantan memiliki kandungan uranium dan potensial sekali," kata Djarot di tempat terpisah saat dikonfirmasi Okezone.

"Mungkin saja pemerintah menginginkan agar kandungan uranium yang kita miliki ini, sementara disimpan saja dulu untuk investasi masa depan anak dan cucu kita," lanjut Djarot tertawa. 

Akan tetapi, dia berharap betul di pemerintahan baru nanti, selain UU ini bisa diubah, juga pihak terkait lebih pro dengan nuklir.

Seperti diketahui, kandungan uranium yang tersebar di 10 wilayah di Kalimantan ini terdiri dari 1608 ton kategori terukur, 6456 ton kategori terindikasi, 2.648 ton teraka dan 14,727 ton hipotetik.

 

Selain Kalbar, cadangan Uranium juga berpotensi di wilayah lain seperti Papua, Bangka Belitung dan Sulawesi Barat.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini