Minim Dana, Batan Akui Sulit Kembangkan Riset Teknologi Nuklir

Amril Amarullah, Jurnalis · Jum'at 15 Agustus 2014 14:18 WIB
https: img.okezone.com content 2014 08 15 56 1025033 DZzjQEDQsD.jpg Minim Dana, Batan Akui Sulit Kembangkan Riset Teknologi Nuklir (Foto: Ilustrasi PLTN)

PONTIANAK - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mendesak pemerintahan baru agar menaikkan anggaran dana penelitian teknologi nuklir. Dengan demikian, teknologi nuklir bisa lebih dimanfaatkan lagi bagi masyarakat luas, baik di bidang pertanian, peternakan maupun kesehatan.

Menurut Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistiyo Wisnubroto, saat ini nuklir bukanlah sesuatu yang mengancam dan membahayakan, tetapi bermanfaat bagi masyarakat luas. Bukan saja bicara soal listrik, bukan saja bicara soal radiasi, tetapi jangkauannya luas.

Karena itu, keinginan menambah anggaran riset Batan adalah lumrah. Seperti yang pernah tercetus dari mantan presiden BJ Habibie beberapa waktu yang lalu, perlunya penambahan anggaran riset teknologi.

"Pak Habibie pernah minta 5 persen untuk anggaran riset teknologi setiap tahunnya dari APBN, yakni sekira Rp8,5 triliunan. Sekarang itu hanya sekira 0,5 persen atau Rp 1,5 triliunan," kata Djarot di Pontianak, Jumat (15/8/2014).

Dengan demikian, Indonesia sekarang ini mau tidak mau sudah harus memajukan perkembangan teknologi terlebih teknologi nuklir. 

"Jadi, tidak hanya bidang pendidikan saja 20 persen anggaran dananya, ilmu pengetahuan dan teknologi juga demikian, tapi kenapa teknologinya tidak dikembangkan," jelas Djarot.

Djarot juga optimis bahwa pemerintahan baru nanti bisa melihat secara realistis dari besarnya manfaat penggunaan teknologi nuklir.

Apalagi menurutnya, saat ini sebagian masyarakat Indonesia yang sudah tidak lagi alergi terhadap apa itu yang namanya teknologi nuklir, karena itu sudah saatnya dapat dimanfaatkan ke depan nantinya (pemerintahan baru).

Dengan demikian, Indonesia tidak lagi impor pangan, tidak impor peralatan kesehatan lagi. "Dengan begitu kita bisa mengobati masyarakat kita di rumah sakit sendiri dengan peralatan yang ada," jelasnya.

Maka dari itu, dengan teknologi nuklir akan banyak kemajuan dan pastinya Indonesia jauh lebih mandiri. "Itu yang kita inginkan, karena nuklir adalah bagian dari kemandirian tersebut," tuturnya.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini