nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Barter Mitratel, Telkom Dinilai Rugikan Negara

Amril Amarullah, Jurnalis · Senin 13 Oktober 2014 16:52 WIB
https: img.okeinfo.net content 2014 10 13 54 1051629 cmYyz9CrB3.jpg Ilustrasi logo Mitratel Telkom

JAKARTA – PT Telkom mendapat protes lantaran melakukan tukar guling anak usahanya PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) ke tower bersama Infrastructure (TBIG) beberapa waktu lalu.

Direktur Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Uchok Sky Khadafi mangatakan, keputusan Telkom melakukan tugar guling sangat merugikan keuangan negara.

“Telkom itu kalau punya otak dan pikiran yang benar, tidak usah menjual atau jual saham perusahaan yang menguntungkan. Yang harus dijual itu, perusahaan yang merugi. Ini (Mitratel) perusahaan prospek ke depan bagus, dan dipaksakan untuk dijual,” ujar Uchok kepada wartawan di Jakarta, Senin (13/10/2014).

Uchok membeberkan mengapa transaksi ini merugikan Negara. Pertama, kata Uchok,  pembayaran bukan tunai. TBIG membayar Telkom dengan menerbitkan saham baru senilai Rp7972 per saham. Dengan demikian, Telkom berisiko menderita kerugian bila harga saham jatuh di bawah Rp7972.

“Mengingat gejolak pasar saham, tidak ada seorang pun yang dapat menjamin bahwa harga saham akan naik atau turun. Jadi transaksi ini sangat berisiko,” ujarnya.

Alasan kedua, harga Murah. Telkom menjual Mitratel dengan harga rerata per menara sebesar Rp1.2 miliar. Pada saat hampir bersamaan, XL Axiata yang menjadi pesaing Telkomsel, menjual 3500 menara ke PT Solusi Tunas Pratama Tbk dengan harga Rp5.6 triliun dalam bentuk tunai. Itu artinya, XL berhasil mendapatkan harga Rp1.6 miliar per menara. Selisih harga antara harga yang ditetapkan Telkom dan XL adalah Rp400 juta per menara.

“Dengan demikian, potensi kerugian Telkom dalam penjualan 49 saham Mitratel menjadi 49 persen x 3920 menara x Rp400 juta per menara = Rp768 miliar. Potensi kerugian Negara menjadi makin besar ke Rp1.6 triliun bila Telkom melepas seluruh saham Mitratel ke TBIG,” ujarnya.

Alasan ketiga, kehilangan Kendali. Menurut Uchok, penjualan 49 persen saham Mitratel juga disertai dengan persetujuan Telkom untuk melepas kendali manajemen ke TBIG, padahal Telkom masih menjadi pemegang saham terbesar (51 persen).

 

Kehilangan kendali juga akan mengakibatkan posisi Telkom dalam sewa-menyewa menara telekomunikasi menjadi sangat lemah. Karena itu, sangat tidak tepat bila direksi Telkom menganggap penjualan saham Mitratel sebagai bentuk kerja sama strategis dengan TBIG.

Sebelumnya, Telkom menjual 49 persen saham Mitratel kepada TBIG seharga Rp2.31 triliun. TBIG tidak membayar dalam bentuk tunai ke PT Telkom, melainkan dengan menukar 290 juta saham TBIG. Dengan demikian, keseluruhan saham Telkom di Mitratel saat ini dihargai Rp 4.71 triliun atau Rp1.2 miliar per menara, karena saat ini Mitratel memiliki 3928 menara.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini