Pandangan Mantan CEO Kaskus soal Startup Lokal

Amril Amarullah, Jurnalis · Selasa 28 Oktober 2014 12:26 WIB
https: img.okezone.com content 2014 10 28 207 1057881 pandangan-mantan-ceo-kaskus-soal-startup-lokal-xXYJOKuIiu.jpg Mantan Chief Executife Officer (CEO) Kaskus, Ken Dean Lawadinata menanggapi pesatnya pertumbuhan startup tanah air (foto: Okezone)

JAKARTA - Selama perjalanan Kaskus, sejak dirintis pada 1999 oleh Andrew Darwis ternyata tidak semulus yang diperkirakan mantan Chief Executife Officer (CEO) Kaskus, Ken Dean Lawadinata saat berbincang dengan Okezone beberapa waktu lalu.

Ken menceeritakan bagaimana Kaskus pernah mengalami pelbagai kesulitan, bahkan sempat ditipu. Dua minggu kaskus mati total, seluruh data hilang tak berbekas. Sehingga, Ken yang waktu itu menjabat sebagai CEO Kaskus mengaku bingung harus berbuat apa. “Bingung harus ngapain, tapi kami bersyukur bantuan dari para member, akhirnya kami bangkit lagi,” jelas Ken lirih.

Selepas itu, Kaskus berkembang, memiliki 360 ribu member pada Maret 2008, per Juli 2012 situs besutan Andrew Darwis, Ronald Stephanus, dan Budi Dharmawan memperoleh 4,6 juta member. "Terbaru (2014) kami mencatatkan 27 juta unique user per bulan," sebut pria yang hobi makan ini.

Nah, sudah menjadi raksasanya forum kasak-kusuk dengan banyak fitur berjejal, lantas mau dibawa kemana Kaskus ke depan?

"Kaskus 10-15 tahun ke depan, saya nggak bisa pastiin itu forum dan FJB. Tapi banyak orang teriak forum kan sudah bread ang butter-nya Kaskus, karena sudah dikenal ke sana. Tapi kalo sudah berbicara bisnis, beda urusan,"

Startup Merugi

Melihat begitu pesatnya perkembangan startup Tanah Air, Ken berpandangan bahwa perkembangan industri kreatif digital Tanah Air, banyak startup yang tidak menghasilkan.

"Kalau buat saya yang masuk ke industri karena tren, bukan ingin kejar market -- banyak yang berhalusinasi nggak nanya memungkinkan nggak startup-nya bisa diterima. Kebanyakan di sini, saya suka neglihat 'wah lagi booming nih' jadi mereka nggak research. Banyak startup masuk majalah tapi nggak bisa menghasilkan," jelasnya kepada Okezone di Jakarta.

Selain itu, ia mengakui bahwa industri belum didukung ekosistem yang mumpuni. Belum ada langkah yang berkesinambungan dari pemerintah, user, dan investor. "Soal internet aja di-push swasta, semua infrastruktur sama. Jadi cukup sulit selama semuanya belum ngejalanin,"

"Saat ini banyak event-event yang mendukung tumbuhnya startup di Indonesia. Dari sisi kualitas memang masih kurang, bukan salah siapa-siapa, tapi kamera industrinya belum mature," kilahnya.

Berorientasi ke depan, Ken mengakui bahwa menangani Kaskus saat ini jauh berbeda jika dibandingkan saat baru dirintis. Saat ini kejayaan telah direngkuh dan ia harus bisa mempertahankan posisi dan bahkan memperluas cakupan dan tantangan pun kian besar.

"Inilah sebabnya investasi dari Djarum membantu kami memperluas jangkauan dan produk, dan mereka (Djarum) banyak masuk untuk mentoring ke sana. Dulu sih bisa semuanya satu ruangan, berembuk, dan nggak ada sistem, dan sekarang berbeda penanganannya, karena tim tambah banyak dan bagaimana mencapai produktivitas itu yang harus dicari," tutupnya.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini