Cerita Developer Game 'Digital Happiness' Bangun Startup dari Nol

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Senin 17 November 2014 15:49 WIB
https: img.okezone.com content 2014 11 17 207 1066619 cerita-developer-game-digital-happiness-bangun-startup-dari-nol-32S0eEvvM0.jpg Rachmad Imron, pendiri Digital Happiness (kiri) dan rekan kerjanya saat ditemui Okezone di kantornya di Bandung (foto: Luthif/Okezone)

BANDUNG - Digital Happiness (DH), studio developer game asal Bandung menceritakan perjalanan mereka dari mulai terbentuknya hingga berjuang dalam ekosistem konten digital di Indonesia. Digital Happiness merupakan developer asli Indonesia yang mengembangkan game bertema horror berjudul DreadOut.

"Cita-cita kita jadi produsen. Sudah lama kita jadi konsumen terus. Kita enggak boleh cuma jadi konsumen saja. Kita coba, kita harus jadi produsen. Memang berat, saingan banyak banget, tapi no problem, kita coba," kata Rachmad Imron, pendiri Digital Happiness yang ditemui Okezone beberapa waktu lalu di Bandung.

Ia mengatakan, DH telah berdiri sejak 2011 dan ia bersama timnya mulai mensahkan DH pada 2013. "Berdirinya 2011 atau 2012, mulai kita bikin legalnya 2013. Basic-nya saya dulu punya studio animasi, dari dulu cita-cita bikin game. Ekosistem bikin game waktu itu belum sebagus sekarang. Waktu itu kita mau nge-lisence engine game mahal banget," terang Imron.

Pada 2011, Imron diperkenalkan dengan mesin game Unity dan menurutnya sangat affordable dengan biaya licence USD1500. "Dan itu mengingatkan mimpi kita kembali, kita bentuk Digital Happiness, waktu itu memang kita berempat, dua orang project base, istilahnya tukang pacul, ngerjain projek, dua orang nge-develop IP kita itu (DreadOut) akhir 2012," jelasnya.

"Kita coba develop IP DreadOut itu, development cost dari saving income project dan dibantu oleh crowdfunding internasional Indigogo. Kita pertama di Indonesia pada Juni 2013, kita keluarin demo dan kita ikutan crowdfunding itu," tambahnya.

Imron mengakui bahwa melalui crowdfunding tersebut, DH yang menargetkan pemasukan dana USD25 ribu selama 40 hari, malah mendapat lebih menjadi USD29 ribu. "Kita tercapai USD29 ribu, dapat lebih 4000-an. Dari situ, kita leburkan kembali untuk stop macul dan fokus pada development," ungkapnya.

Lebih lanjut Imron mengungkapkan, setelah mendapatkan pembiayaan crowdfunding, lalu DH mengembangkan game selama 6-8 bulan. "Akhirnya rilis episode pertama pada Mei 2014, distribusi via digital Steam. Alhamdulillah dari situ, cita-cita gimana caranya kita bisa hidup dari satu game itu. Kita awalnya berempat, bertujuh, berdua belas, sekarang berduapuluh. Desember (tahun ini) mudah-mudahan episode kedua muncul," imbuhnya.

DreadOut saat ini hanya dapat dimainkan di platform PC. Permainan ini menyuguhkan kesan horor, lingkungan malam hari, gelap, mati lampu dan bermodalkan ponsel yang digenggam tokoh bernama Linda.

Sekilas mirip permainan Fatal Frame, tetapi cita rasa Indonesia sangat kental dengan munculnya hantu-hantu khas Indonesia, seperti kuntilanak atau pocong. Tidak hanya itu, bila Anda mengeksplorasi lingkungan dalam permainan, akan ditemukan berbagai objek seperti perabotan rumah yang persis buatan pengrajin Indonesia.

Apabila ada penampakan hantu, gamer harus siap mengarahkan ponsel yang dipegang Linda untuk memfoto makhluk halus tersebut. Terdapat tanda di sisi-sisi layar, menunjukkan indera keenam yang dimiliki Linda saat hantu mulai tampak.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini