Indonesia Darurat Listrik, Saatnya Bangun PLTN

Advent Jose, Jurnalis · Kamis 19 Maret 2015 17:21 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2015 03 19 207 1121126 indonesia-darurat-listrik-saatnya-bangun-pltn-BxJjxke95x.jpg Tumirin saat menjelaskan saat ini Indonesia membutuhkan sekali energi listrik alternatif yakni nuklir (foto: Advent Jose/Okezone)

JAKARTA – Indonesia sudah saatnya memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sendiri, untuk menyokong pasokan listrik yang selamanya tidak bisa mengandalkan batubara untuk berbagai kebutuhan masyarakat.

Anggota Dewan Energi Nasional, Tumiran, mengatakan pada 2025 setidaknya Indonesia sudah harus merealisasikan adanya PLTN tersebut. Bila tidak, Indonesia akan kesulitan mencari cadangan alternatif listrik yang bahan bakunya semakin menipis.

"Indonesia itu miskin infrastuktur listrik sehingga kita tidak bisa membuat perekonomian yang kokoh untuk meningkatkan daya saing," ucap Tumiran di kantor Pusdiklat Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Kamis (19/3/2015).

Saat ini, kata Tumiran, Indonesia memiliki kapasitas baru 53 Gigawatt untuk penduduk 250 juta, sedangkan yang dibutuhkan adalah 200 Gigawatt. Artinya kapasitas listrik di Tanah Air baru 210 watt per kapita.

"Bandingkan dengan China yang kapasitas listriknya sudah mencapai 875 watt perkapita, apalagi Jepang mencapai sekira 2300 watt perkapita, disitu kita ketinggalan sekali," ujar Tumiran.

Bahkan menurutnya, di Asean Indonesia berada nomor enam setelah Vietnam untuk nilai besaran kapasitas listrik per kapita.

"Padahal sejatinya untuk menjadi negara yang maju dan memiliki industri yang sehat kita butuh kapasitas listrik 800 watt per kapita," tambah Tumiran lagi.

Menurutnya saat ini pembangkit tenaga listrik yang ada baru memanfaatkan dukungan batubara dan geothermal. Namun itu belum saja belum mencukupi, karena itu dibutuhkan sumber daya lain yakni nuklir untuk membantu menyediakan kebutuhan pasokan listrik di Indonesia.

"Indonesia memerlukan listrik dengan kapasitas besar dan handal. Termasuk salah satunya adalah nuklir," demikian Tumiran.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini