Beda Model Bisnis Lazada versus Tokopedia

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Jum'at 13 November 2015 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2015 11 12 207 1248403 beda-model-bisnis-lazada-versus-tokopedia-oabNrn9iC2.jpg Ilustrasi (Foto: Business2community)

JAKARTA - Beberapa perusahaan e-commerce yang hadir di Indonesia, sama-sama menampilkan produk dagangan di website mereka. Namun, tahukah Anda bahwa terdapat bisnis model yang berbeda dari perusahaan e-commerce tersebut.

Sebut saja Lazada, perusahaan ini menawarkan produk yang dijual secara retail online atau Business To Consume (B2C), dengan memiliki gudang barang sendiri. Sedangkan untuk bisnis model Consumer to Consumer (C2C), perusahaan e-commerce hanya menyediakan platform atau sebagai jembatan bertemunya penjual dan pembeli dalam satu platform.

C2C konsep yang diusung beberapa perusahaan e-commerce seperti Tokopedia dan Bukalapak. Baik B2C maupun C2C, masing-masing e-commerce tersebut tentu memiliki kelebihan serta layanan unggulan yang ditawarkan oleh perusahaan

Sebastian Sieber, Chief Marketing Officer (CMO) Lazada mengatakan, kelebihan B2C ialah perusahaan memiliki kontrol yang kuat terhadap barang yang akan dijual hingga menyediakan layanan pengiriman sendiri. Apabila terjadi hal-hal yang tidak diharapkan pada saat transaksi, misalnya kesalahan dalam pengiriman barang, maka perusahaan bertanggungjawab untuk me-replace barang tersebut.

Seperti yang terjadi pada akhir Juni lalu, seorang pelanggan kedapatan mendapatkan salah satu merk sabun, padahal ia memesan iPhone 6 Plus di Lazada. Lazada menyampaikan bahwa hal itu merupakan kesalahan individu atau human error pada operasional rantai suplai.

"Kami bertanggungjawab, kami melindungi konsumen dengan mengganti produk tersebut," kata Sebastian kepada Okezone, Kamis (12/11/2015). Lazada juga memiliki layanan market place, yang memungkinkan pengguna untuk berjualan melalui platform Lazada, tentunya dengan menyertakan identitas secara jelas untuk keamanan konsumen.

Lazada Indonesia mengakui bila beberapa barang memang didatangkan dari negara luar, misalnya China. Meskipun barang impor, perusahaan memastikan bahwa pelanggan tidak akan terkena biaya tambahan yang membebani pihak konsumen.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini