Mengapa Manusia Menangis? Temukan Jawabannya di Sini

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 09 Juni 2016 13:21 WIB
https: img.okezone.com content 2016 06 09 56 1410360 mengapa-manusia-menangis-temukan-jawabannya-di-sini-v3mTPEQnqz.jpg foto: ilustrasi

JAKARTA - Apakah tak biasa seorang laki-laki menangis? Ini salah satu pertanyaan yang saya coba cari lewat acara di serial BBC Radio 4 The Curious Cases of Rutherford and Fry.

Saya siaran bersama Hannah dan mencoba menjelajahi penjelasan ilmu pengetahuan tentang menangis: jika laki-laki tak terlalu banyak menangis, mengapa? Apa keuntungan dari mencucurkan air mata? Dan jika ditilik dari evolusi manusia, kenapa kita menangis?

Jawaban bagi pertanyaan apakah saya ini termasuk orang yang tidak lazim, tidak bisa dijawab dengan tegas. Menurut banyak penelitian yang dilakukan, perempuan memang menangis lebih banyak daripada laki-laki dan hasil ini terus konsisten sejak penelitian semacam ini dibuat.

Penelitian psikolog William Frey di tahun 1982 memperkirakan bahwa perempuan menangis rata-rata 5,3 kali sebulan, sementara laki-laki hanya membocorkan mata mereka sebanyak 1,3 kali sebulan.

Secara rata-rata, ketika seorang perempuan menangis, lamanya adalah lima sampai enam menit, dibandingkan tangis laki-laki yang panjangnya dua sampai tiga menit.

Psikolog Belanda Ad Vingerhoets dari Universitas Tilberg adalah orang yang tepat untuk ditanya soal menangis. Ia hanya satu dari sedikit saja peneliti yang mencari tahu soal tangis, dan hasil penelitiannya memastikan bahwa ada perbedaan gender, dan ini dimulai dari masa kanak-kanak.

Pada masa bayi, tangisan adalah sesuatu yang netral secara gender dan bersifat universal: semua bayi melakukannya secara sama. (Psikolog evolusioner berpendapat bahwa bayi menangis merupakan pertanda akustik akan kebutuhan orang tua. Saya rasa orang tua umumnya sudah paham soal ini.)

Jadi apa yang menjelaskan perbedaan gender yang muncul ketika anak-anak berkembang dewasa? Jelas bahwa faktor budaya memainkan peran penting.

Ada penemuan tak langsung yang mendukung hal ini: berbagai penelitian di berbagai negara menemukan bahwa orang menangis di banyak negara dimana menangis lebih diterima secara sosial.

Vingerhoets juga menemukan bahwa menangis terjadi di negara makmur, implikasinya adalah kesejahteraan membuat kita lebih ekspresif secara emosional, dan mengubah orang menjadi cengeng.

Namun ia pikir tidak hanya pengkondisian sosial yang membatasi laki-laki menangis, tetapi juga hormon testosteron.

Ia mendapat laporan bahwa pasien yang menjalani perawatan kanker prostat menurunkan tingkat testosteron mereka membuat mereka lebih mudah menangis – sekalipun Anda bisa mendebatnya bahwa mereka lebih rapuh secara emosional akibat kanker yang mereka derita.

Manusia adalah satu-satunya spesies yang menangis karena alasan emosional (ada juga pendapat di masa lalu bahwa gajah bisa menangis ketika berduka, tapi pendapat ini gugur ketika diteliti lebih jauh).

Aneh sekali bahwa topik ini amat jarang diteliti. Kita tak tahu kenapa kita menangis ketika mengalami rasa sakit di badan. Kita tidak tahu kenapa kita menangis saat mengalami trauma emosional (kerap disebut air mata psikis), atau bahkan ketika dalam keadaan sangat bahagia.

Karena kita adalah makhluk sosial, ini bisa jadi indikator, sebuah jalan untuk mengeluarkan keadaan mental yang penting dari dalam. Namun itu semua masih dugaan semata.

Mungkin ini adalah penyaluran. Salah satu penelitian terbaru Vingerhoet mencoba untuk menilai perkataan bahwa orang merasa lebih baik sesudah menangis.

Di tahun 2015 ia meminta sukarelawan untuk melaporkan kondisi emosional mereka sebelum menonton sebuah film sedih.

Salah satunya adalah film Life is Beautiful, film peraih Piala Oscar yang mengaduk-aduk perasaan tentang seorang lelaki Yahudi mencoba menerima kenyataan menjalani Holocaust melalui komedi dan rasa cinta.

Satu lagi adalah film Hachi: A Dog’s Tale. Lalu mereka diminta untuk mengisi formulir yang sama sesudah menonton, 20 menit dan dua jam sesudahnya.

Hasilnya cukup jelas: mereka yang tak menangis tak memperlihatkan adanya perubahan dalam temperamen mereka. Bagi mereka yang menangis, mood mereka meningkat dengan pesat sesudahnya, yang bisa ditafsirkan sebagai efek penyaluran. Orang tampaknya merasa lebih baik sesudah menangis.

Pada program radio The Curious Cases of Rutherford and Fry, kami sering mengadakan percobaan kecil dan meniru penelitian untuk menjawab pertanyaan yang dikirimkan pendengar dan kami memutuskan untuk meniru penelitian yang menggunakan film. Dan orang tampaknya merasa lebih baik sesudah menangis.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini