Tak Berbasis Cost, Tarif Interkoneksi Itu Tidak Bagus

Arsan Mailanto, Jurnalis · Selasa 28 Juni 2016 12:53 WIB
https: img.okezone.com content 2016 06 28 54 1427261 tak-berbasis-cost-tarif-interkoneksi-itu-tidak-bagus-5V7oU3pbAW.jpg (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Diterapkannya skema interkoneksi berbasis cost (biaya), munculnya spekulasi kemungkinan peningkatan cost dari operator telekomunikasi Indonesia. Mengingat, keinginan dari Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara untuk menurunkan biaya interkoneksi lebih dari 10 persen.

Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengatakan, masalah interkoneksi sudah diatur oleh Permen (Peraturan Pemerintah) dalam negeri dan mekanisme ini sudah ada. "Intinya, semua itu berbasis pada cost dan menjadi acuannya cost operator," ujarnya kepada wartawan di Jakarta.

Ia menjelaskan, dalam hal ini tentu saja Telkomsel submit berapa biaya cost Telkomsel dan itu biasa diaudit dan kalau memang itu dirasa angka yang memang bisa di validasi.

"Basisnya adalah di cost dan itu ada di peraturan yang juga digunakan di ranah internasional. Menurut saya itu yang paling fair karena itu menunjukkan apa yang memang dispense baik itu berupa biaya modal capex (capital expenditure) dan biaya operasi opex (operating expenditure)," ungkapnya.

Ririek menyatakan, sebagai wadah (operator) yang mempunyai network 10 hingga 100 BTS (base transceiver station) pasti nilai cost-nya berbeda.

"Itulah yang kemarin kita proses dan juga kita ikuti yang kemudian berkembanglah berbagai wacana. Sebenarnya, komponen biaya interkoneksi terhadap retail itu relatif kecil, kalau mau turunin ya turunin saja enggak usah bergantung pada biaya interkoneksi," kata Ririek.

Ia mengaku kalaupun biaya interkoneksi diturunkan tak lagi memenuhi cost-nya itu tidak bagus. Karena pada saat biaya interkoneksi ditetapkan tidak lagi berbasis cost, maka ada risiko bahwa operator tidak dihargai sebagaimana seharusnya. "Jadi itu juga berdampak negatif bagi industri," tambah Pria yang juga menjabat sebagai Dewan Pengawas ATSI tersebut.

Ada juga beberapa wacana mengatakan harga perangkat turun, memang benar perangkat itu turun tetapi masalahnya itu ada modernisasi.“Karena kita butuh kapasitas BTS dan kita nambah coverage (jangkauan area) meski turun tapi volumenya itu kita tambah karena kebutuhan masyarakat cepat, pertumbuhan data juga sangat cepat,” Ririek menambahkan.

Seperti diketahui, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) akan menurunkan biaya interkoneksi lebih dari 10 persen. Dan dalam waktu dekat pengumuman aturan baru untuk menurunkan tarif interkoneksi yang jadi salah satu komponen panggilan telepon lintas operator (off-net) dengan kesepakatan penurunan interkoneksi 25 persen keluar pada Juni tahun ini.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini