Alasan Network Sharing Susah Diterapkan di Indonesia

Arsan Mailanto, Jurnalis · Selasa 28 Juni 2016 15:01 WIB
https: img.okezone.com content 2016 06 28 54 1427428 alasan-network-sharing-susah-diterapkan-di-indonesia-4WZqk1AiAp.jpg (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengatakan, network sharing tidak wajib dari operator yang harus berbagi frekuensi dengan operator lainnya.

“Jadi prinsipnya network sharing itu tidak mandatory, sifatnya enggak wajib di mana antara operator itu harus saling sharing ke operator lain,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta.

Sebagaimana diketahui dua operator Indosat Ooredoo dan XL Axiata segera mengesahkan aturan network sharing, sehingga lebih efisien dalam berkompetisi.

Kini dalam Permen, Peraturan Pemerintah (PP) No 53/2000 tentang Telekomunikasi yang mengatur frekuensi dan orbit satelit itu sendiri masih dibahas dalam revisi PP dan masih menunggu restu dari Presiden Jokowi.

Ririek menambahkan, kalau sifatnya mandatory justru dapat menjadi kendala bagi pembangunan infrastruktur telekomunikasi Indonesia. “Jadi kalau network sharing sifatnya wajib, maka akan alot (tidak lancar), saling tunggu-tungguan dan tak ada yang mau bangun infrastruktur,” ungkapnya.

Ia mengaku, bahwa network sharing juga terkait dengan penggunaan lisensi. Jika network sharing diwajibkan yang ada kewajiban membangun operator malah terabaikan. “Jangan sampai kita sharing, tetapi lisensi tak dipenuhi. Jadi begini, namanya lisensi apalagi yang memakai spektrum dialokasikan itu adalah sesuatu sumber yang terbatas,” jelas Ririek.

Menurutnya, di Indonesia ini spektrum yang dialokasikan dalam bentuk mobile itu salah satu paling sedikit di antara negara lain. Negara lain itu sudah membuka jauh lebih banyak dibandingkan Indonesia.

“Enggak usah jauh-jauh, seperti Filipina yang dibuka untuk seluler sementara kita sangat minim dan terbatas. Kalau lisensi itu diberikan kepada operator yang komitmen yang lebih rendah, kan sayang spektrum yang digunakan itu,” ucap Ririek.

Padahal lanjutnya, ada operator lain yang mau komitmen untuk membangun dan menggunakan spektrum juga tidak bisa padahal si operator ini komitmen membangun jaringan jadi tidak sesimpel itu. “Jadi prinsip dasar adalah sharing itu harus tidak mandatory, tetapi itu deal bisnis business to business (B2B),” kata Pria yang juga menjabat sebagai Dewan Pengawas ATSI tersebut.

Sementara itu, bagi operator network sharing dianggap bisa menjadi solusi untuk menekan biaya cost investasi membangun jaringan yang sangat besar. Namun di satu sisi juga dinilai memunculkan risiko bagi wilayah tersebut.

“Jika di satu daerah cuma ada satu jaringan, efeknya bayangkan kalau network itu gangguan daerah itu collapse unconnect. Risiko lain yang terjadi adalah akan susah menjaga kualitas kalau masyarakat dihadapkan dua pilihan idealnya adalah soal harga dan kualitas dari operator tersebut,” Ririek menambahkan.

Ia menjelaskan, secara umum ada dua hal yang harus dipenuhi industri ini yakni pertama soal kualitas layanan untuk memenuhi syarat dan harganya terjangkau tidak harus murah, percuma murah tetapi kualitasnya buruk.

“Kedua harus sustainable kalau operator tidak sehat, enggak menguntungkan jadi perang harga seolah-olah masyarakat berpikir jangka pendek tetapi enggak di jangka panjang. Misalnya dengan harga yang tidak wajar otomatis kualitas itu menurun dalam waktu jangka pendek,” pungkas Ririek.

Sebagaimana dalam pemberitaan, hubungan network sharing sendiri saat ini sudah mulai dijalankan oleh XL Axiata dan Indosat Ooredoo yang menjalin kolaborasi network sharing berbasis Multi Operator Radio Access Network (MORAN).

Hanya saja, hubungan keduanya ingin ditingkatkan menjadi Multi Operator Core Network (MOCN), agar memungkinkan terjadinya penggunaan frekuensi secara bersama untuk efisiensi investasi.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini