Ramai-ramai Lepas Saham, Industri Telekomunikasi Tak Lagi "Seksi"?

Aditya Gema Pratomo, Jurnalis · Rabu 21 September 2016, 20:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 09 21 54 1495317 ramai-ramai-lepas-saham-industri-telekomunikasi-tak-lagi-seksi-sTLdaMbGVt.jpg Ilustrasi (foto:Reuters)

JAKARTA - Beberapa hari terakhir, media diramaikan oleh rencana penjualan saham yang akan dilakukan oleh Axiata. Melihat langkah pelepasan saham tersebut, apakah ini sinyal kemunduran industri telekomunikasi di Indonesia?

Pengamat telekomunikasi yang juga mantan komisioner BRTI, Heru Sutadi. Ia menilai, bisnis telekomunikasi di Indonesia cenderung mengalami penurunan. "Bisnis telekomunikasi di Indonesia sudah tidak menarik bahkan cenderung merugikan pemain di luar perusahaan plat merah. Intinya, hampir semua merugi," ujarnya kepada Okezone, Rabu (12/9/2016)

Hal senada juga dituturkan oleh Nonot Harsono, mantan komisioner BRTI. Dalam pandangannya, rencana pelepasan saham yang akan dilakukan Axiata adalah hal yang wajar. "Iya wajar karena dalam beberapa tahun terakhir terus merugi," ujarnya.

Perubahan Tren ke Data

Nonot menjelaskan bahwa terjadi perubahan tren di industri telekomunikasi. Pada awalnya, panggilan suara dan SMS adalah dua komponen yang sangat diandalkan oleh operator telekomunikasi untuk mencari keuntungan. Kini, layanan data adalah senjata andalan untuk mendongkrak profit.

"Krisis global dan perubahan demand masyarakat dari voice/sms ke internet multimedia, tidak diikuti dengan penyesuaian network- pricing-strategy. Akhirnya, operator saling membunuh," ujar Nonot.

Keterlibatan Pemain OTT Asing

Selain perubahan tren, keterlibatan OTT Asing dalam penyediaan jaringan dinilai turut memperkeruh keadaan industri. Seperti diketahui, Google memiliki Project Loon, sedangkan Facebook memiliki proyek satelit AMOS-6. Bukan tidak mungkin jika di masa depan, Facebook dan Google menyediakan layanan telekomunikasi.

"Bisa saja operator Indonesia dibeli oleh Google atau Facebook lalu diperbaiki kinerjanya menjadi lebih baik," lanjut Nonot.

Padahal, Perusahaan telekomunikasi sangatlah membutuhkan modal belanja yang tidak sedikit. Berbeda dengan pemain OTT asing yang tidak membutuhkan modal banyak untuk membuka layanan.

"Terkadang kasihan juga kita undang investor tapi pas di dalam iklim investasi tidak dirawat, sebab beda dengan OTT yang modal sedikit, bisnis seluler kan padat modal, dan membutuhkan sdm yang banyak," jelas Heru

Peran Pemerintah

Untuk mengantisipasi matinya industri Telekomunikasi di Indonesia, peran pemerintah sangatlah vital. Dalam pandangan Heru, pemerintah harus menciptakan iklim usaha yang sehat. Hal itu dinilai dapat membuat para stakeholder di sektor ini menjadi nyaman.

"Pemerintah dalam dua tahun terakhir ini tidak berhasil membina dan menciptakan iklim usaha yang kompetitif secara sehat. Pemerintah perlu introspeksi," ujar Heru.

Serupa dengan Heru, Nonot juga menggarisbawahi peran pemerintah yang sangatlah penting untuk membangkitkan industri ini. “Negara harus bisa bebas masuk menguasai pasar online indonesia. DPR dan Pemerintah harus sadar situasi ini," tutup Nonot.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini