PERISKOP 2017: Tren Startup E-Commerce Makin Menggeliat di 2017

Moch Prima Fauzi, Jurnalis · Jum'at 13 Januari 2017 14:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 01 13 207 1590648 periskop-2017-tren-startup-e-commerce-makin-menggeliat-di-2017-v6hucFh6S3.jpg Ilustrasi startup. (Foto: Huffingtonpost)

JAKARTA – Peran teknologi tak melulu mengedepankan soal perangkat ringkas yang dapat mengatasi segala keterbatasan manusia. Ia dapat menjalar ke berbagai bidang seperti pengembangan aplikasi dan juga inovasi di aspek kehidupan lainnya.

Oleh karena itu, penerapan teknologi saat ini disadari telah dapat dimanfaatkan pada cakupan yang lebih luas seperti ekonomi yang melahirkan fintech dan e-commerce, serta sektor transportasi dengan digitalisasi pada layanannya.

Tak heran, munculah beberapa bibit pemula yang mulai merintis usaha di bidang penerapan teknologi baik itu dalam melahirkan solusi, pemanfaatan alat, maupun pengelolaan data, yang disebut sebagai startup.

Tren E-commerce dan Fintech

Di Indonesia, demam startup cukup populer, terutama dalam melahirkan aplikasi-aplikasi solusi bagi lingkungan. Namun beberapa pengamat menilai, tren startup di 2017 ini akan diramaikan pada sektor fintech dan e-commerce.

Menurut Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, fintech dan e-commerce diprediksi masih akan cukup populer di 2017. Keduanya dianggap dapat membantu masyarakat dalam mendigitalkan layanan manual selama ini.

“Sekarang tergolong lagi demam startup fintech, aplikasi yang membantu masyarakat atau mendigitalkan layanan manual selama ini. E-commerce juga akan makin ramai,” kata Heru.

Senada dengan Heru, Teguh Prasetya, Pengamat Multimedia dan ICT juga menjelaskan hal yang sama. Menurutnya tahun ini masih bakal diramaikan oleh startup di bidang e-commerce.

“Tren startup tentunya untuk global masih di seputar e-commerce dan rantai bisnisnya,” singkatnya.

Internet of Things, Smart Homes, Crowdfunding dan Crowdsourcing

Selain kedua pengamat di atas, berdasarkan penuturan Huffingtonpost, beberapa sektor lain selain fintech dan e-commerce seperti Internet of Things (IoT), Smart Homes, Crowdfunding dan Crowdsourcing juga bakal diramaikan oleh rintisan baru.

Sektor IoT saat ini masih dianggap sebagai usaha yang menarik perhatian masyarakat karena kemampuannya yang saling terkoneksi antara satu perangkat dengan perangkat lainnya. Sementara smart homes dinilai dapat memudahkan masyarakat dalam merancang hunian yang lebih pintar dan praktis.

Adapun soal crowdfunding dan crowdsourcing, penerapan startup disebut tak melulu soal melahirkan produk-produk terbaru, namun juga mampu bekerja di belakangnya. Oleh karena itu usaha rintisan di bidang tersebut dinilai dapat menjadi tren di 2017 dengan berkaca pada kesuksesan situs Kickstarter, IndiGoGo dan Crowdfunder.

Dinamika Tren Startup di Indonesia

Meski geliat startup di Indonesia telah mulai terlihat, namun menurut Teguh, saat ini kendala yang dialami oleh startup ialah soal sumber daya manusia yang berkualitas untuk urusan teknis maupun non-teknis. Selain itu, terdapat pula urusan pendanaan dan pendampingan yang sering terjadi bagi pelaku startup.

Di Indonesia sendiri, menurutnya, jumlah startup masih tergolong minim jika dibandingkan dengan negara tetangga, Singapura. Merujuk pada data yang dilansir Tech in Asia, ia menjelaskan bahwa Singapura mengalami peningkatan jumlah startup yang signifikan.

Pertumbuhan jumlah startup di Singapura telah menyentuh angka 90% dari total rintisan yang ada pada 2004 sebanyak 2.800 startup, meningkat menjadi 5.400 startup di 2014.

“Diperkirakan tahun 2016 kemarin jumlah startup di Singapura mencapai 10.000,” ungkap Teguh.

Menurut Heru Sutadi dalam kesempatan yang berbeda, mengungkapkan bahwa pemerintah tampaknya masih kebingungan dalam mengembangkan startup yang ada sehingga terkesan jalan di tempat.

Program Gerakan 1.000 Startup yang kini dicanangkan pemerintah dikatakannya masih belum sesuai harapan. Kegiatan tersebut dinilai Heru hanya sebatas perlombaan biasa. “1.000 Startup saya pikir belum berhasil seperti yang diharapkan dan masih sebatas kegiatan-kegiatan perlombaan saja,” kata Heru.

Sayangnya, pihak Kibar sebagai inisiator program Gerakan 1000 Startup Digital masih belum memberikan jawaban soal tersebut.

Hanya saja, menurut Teguh Prasetya, saat ini pemerintah perlu berperan sebagai katalisator dan pembimbing untuk mempermudah tumbuhnya startup baru. Saat ini telah mulai tumbuh kesadaran akan perlunya mendukung startup yang terus dikembangkan tahun ini.

“Dengan semakin dimudahkannya pembuatan dan pendampingan startup tentunya akan semakin tumbuh startup baru. Dari mulai aware dulu dan perlu sosialisasi yang lebih merata,” tutup Teguh.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini