Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berawal dari Sewakan Boks Bayi, Startup Sevva.co Ingin Mengglobal

Kustin Ayuwuragil Desmuflihah, Jurnalis · Selasa 14 Februari 2017 09:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 02 13 207 1617195 berawal-dari-sewakan-boks-bayi-startup-sevva-co-ingin-mengglobal-AGXga758Rl.jpeg Foto: Okezone/ Kustin Ayuwuragil

JAKARTA – Ide membangun sebuah startup bisa berasal dari mana saja. Setelah tiga kali gagal menjalani usaha konvensional dengan Michael Luckyman, Erik Hormein merintis usahanya dalam bidang persewaan boks bayi. Namun, dia bermimpi mengembangkan usaha tersebut menjadi lebih berskala global.

Erik pun menggandeng ketiga rekannya yakni Michael, Nicholas Lie, dan Tika Dianty untuk memulai startup bernama Sevva.co dengan mempertemukan penyewa dan vendor-nya. Saat berbincang dengan Okezone, Michael yang kini didapuk sebagai CMO Sevva.co menceritakan bahwa tidak mudah mengawali bisnis tanpa modal dan jaringan terbatas.

“Sebenarnya bisnis ini awalnya dari Eric, CEO kami, yang punya bisnis rental boks bayi. Dia pengin bisnisnya berkembang, tapi rumahnya kecil, sedangkan dia punya 100 boks bayi yang direntalkan. Kalau mau punya lebih banyak order, otomatis dia perlu lebih banyak tempat lagi, harus beli rumah lagi. Saat itu dia berpikir pengin buat perusahaan yang lebih bisa diatur skalanya tapi tetap di bisnis sewa-sewaan. Muncullah akhirnya dengan Sevva.co ini yaitu dengan rental service yang mempertemukan penyewa dengan pemilik barang,” terang Erik di Jakarta Pusat, Senin (13/2/2017).

Platform tersebut hingga kini memiliki 10 ribu pengguna aktif sejak diluncurkan pada 1 Juni 2016. Mereka juga baru saja mendapat pendanaan USD50 ribu dari Ideabox yang diinisasi Indosat Ooredoo, Mountain Partners, dan Kejora.

Menariknya, Sevva.co ini tak ingin menyentuh penyewaan tempat tinggal, hotel, vila, maupun kendaraan yang sebenarnya juga sama-sama menjanjikan. Mereka memilih meminjamkan barang-barang sehari-hari seperti stroller, boks bayi, tas bermerek, hingga kamera. Model bisnis yang mereka gunakan juga masih sederhana yakni mempertemukan persewaan dengan penyewa. Sevva.co berlaku sebagai pihak ketiga dan memberikan layanan rekening bersama.

“Kami tidak meminjamkan motor, rumah, karena AirBnB dan Uber sudah menjawab itu. Tapi sektor barang sehari-hari ini belum ada.  Kalau soal asuransi, kami ini masih terbatas dan baru, kami gunakan pendekatan pada vendor yang sudah biasa nyewain barang. Jadi mereka tahu bisnis ini jalan dan risikonya mereka juga tahu. Tapi ke depan kami bakal kasih insurance dan memakai pendekatan customer to customer sementara sekarang masih kayak business to customers. Ke depannya akan dibuat profesional mungkin seperti Tokopedia dari dana yang kami terima,” kata Erik.

Ia sendiri mengatakan bahwa bisnis jenis ini yang disebut sharing economy dan akan semakin marak di 2017, bahkan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. Hal itulah yang membuatnya yakin bahwa Sevva.co juga akan bisa mendunia.

Sharing economy ini akan lebih banyak lagi muncul di 2017 dan ke depan karena bisa kita lihat sendiri sekarang bahwa AirBnB tanpa punya kamar value-nya lebih besar daripada Hilton, sementara Uber yang tidak punya mobil juga bisa lebih valuable daripada Delta Airlines. Kami semua mengejar kue yang sama yaitu USD335 triliun total revenue global market sharing di 2025. Karena kami sudah bergabung di Ideabox, kami berharap bisa menelurkan produk yang bisa menyelesaikan masalah orang dan mampu mengglobal,” terangnya.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini