CEO Indosat Ooredoo: Interkoneksi Hanyalah Simbol Pertahanan Saja

Kustin Ayuwuragil Desmuflihah, Jurnalis · Rabu 08 Maret 2017, 20:05 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 03 08 54 1637766 ceo-indosat-ooredoo-interkoneksi-hanyalah-simbol-pertahanan-saja-2odxkL40a5.jpeg Foto: Okezone

JAKARTA – CEO Indosat Ooreedoo Alexander Rusli menilai bahwa kompetisi industri telekomunikasi yang sehat di era data ini sebenarnya tidak terlalu terpengaruh oleh tarif interkoneksi. Oleh karena itu, dia menyebut bahwa interkoneksi adalah simbol pertahanan.

Menurut Alex, interkoneksi hanya akan berpengaruh besar ketika era telekomunikasi masih bergantung pada layanan SMS dan telefon. Sementara itu di era data, ‘musuh’ para operator bukanlah operator lain melainkan aplikasi perpesanan yang mengandalkan layanan suara dan pesan berbasis data.

“Sebenarnya kalau temen-temen baca, berapa sih pendapatan operator dari interkoneksi? Tapi memang interkoneksi itu kan simbol pertahanan dari satu perusahaan yang memiliki pelanggan lebih banyak itu dilindungi fee tinggi telefon itu dengan interkoneksi yang tinggi. Jadi memang interkoneksi juga adalah alat yang dipakai oleh regulator juga bahwa dia digunakan untuk melindungi existing operator. Selain itu, juga jadi alat untuk membantu operator yang kecil untuk catch up tapi ini untuk zaman-zamannya SMS dan voice call karena di data itu sudah enggak ada interkoneksi lagi,” paparnya ketika Alexander Rusli saat ditemui Okezone, di acara ‘Sharing Season SINDO’, Jakarta, Rabu (8/3/2017).

Hingga kini penerapan tarif interkoneksi belum juga diketuk palu. Salah satu alasannya adalah karena perbedaan harga yang diajukan pemerintah dengan salah satu operator. Alex menjelaskan bahwa ada beberapa cara untuk menghitung tarif tersebut.

“Ada beberapa cara ngitung angka interkoneksi. Ada yang cost masa lampau, ada yang seperti sekarang ini kita pakai long range incremental ke depan jadi ada asumsi mengenai berapa banyak trafik yang akan ke depan. Nah, asumsi-asumsi ini selalu debatable makanya ada angka yang besar kecil, ada yang asumsi trafiknya sekian angkanya sekian makanya beda-beda,” tambahnya.

Ke depan, Alex berharap terciptanya arena kompetisi yang lebih baik. Jika kompetisi sehat terbangun apik, maka masyarakat akan mendapatkan jaringan yang lebih terjangkau sementara industrinya juga bisa berkembang dengan baik.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini