Meski Penjualan Meningkat, Pengguna Tak Rasakan Manfaat Wearable Device

Moch Prima Fauzi, Jurnalis · Rabu 15 Maret 2017 11:29 WIB
https: img.okezone.com content 2017 03 15 57 1643145 meski-penjualan-meningkat-pengguna-tak-rasakan-manfaat-wearable-device-yocUP0Bue8.jpg Ilustrasi. (Foto: Business Insider)

JAKARTA - Di kuartal akhir 2016, perusahaan riset pasar IDC mengumumkan hasil penjualan dari perangkat wearable (wearable device) yang mengalami pertumbuhan dari tahun sebelumnya. Menurut IDC, produsen perangkat wearable mampu menjual produknya sebanyak 33,9 juta unit.

Angka tersebut meningkat dari 2015 yang mencapai sebanyak 29,0 juta unit. Hal tersebut menunjukkan dari keseluruhan penjualan sepanjang 2016, penjualan perangkat wearable meningkat sebesar 16,9%. Hasil itu didominasi oleh merek Fitbit yang berada di puncak penjualan tertinggi.

Fitbit berhasil menjual perangkat wearable miliknya sebanyak 6,5 juta unit atau meraih pangsa pasar sebesar 19,2%. Di posisi kedua, perusahaan asal China, Xiaomi, menempel Fitbit dengan perolehan pasar sebesar 15,2% atau jumlah penjualan sebanyak 5,2 juta unit.

Apple kemudian membuntuti keduanya di posisi ketiga dengan jumlah penjualan 4,6 juta unit. Pembuat smartphone iPhone dan komputer Mac tersebut memiliki pangsa pasar 13,6%. Bagaimana dengan pesaingnya, Samsung? Ternyata, perusahaan asal Korea Selatan tersebut berada di urutan kelima yang berada di bawah produk bermerk Garmin.

Garmin memiliki pangsa pasar 6,2% dengan total penjualan produk sebanyak 2,1 juta unit sedangkan Samsung memiliki pangsa pasar 5,6% dengan raihan penjualan 1,9 juta unit.

Mahal dan Tak Banyak Bermanfaat

Periset pasar lainnya, Gartner, telah melakukan survei kepada 9.592 responden secara online yang dilakukan pada Juni dan Agustus 2016. Survei tersebut dilakukan di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Survei dilakukan untuk mengetahui pemahaman yang baik dari konsumen terhadap perangkat wearable.

Hasilnya, diketahui bahwa sebanyak 29% responden meninggalkan perangkat wearable berjenis jam pintar dan 30% dari jenis gelang kesehatan. Alasannya ialah mereka tak mendapatkan manfaat dari perangkat tersebut, karena kerusakan atau karena merasa bosan.

"Ditinggalkannya penggunaan perangkat wearable adalah masalah serius bagi industri. Tingkat ditinggalkan itu tergolong cukup tinggi dibandingan pada tingkat penggunaan. Agar memiliki ketertarikan yang lebih, pengguna perangkat wearable harus membedakan apa yang dimiliki dari smartphone," ungkap Angela McIntyre, analis Gartner.

Selain itu, responden juga mengungkap soal harga yang ditawarkan untuk sebuah perangkat wearable yang terlalu mahal. Dari survei itu juga diketahui bahwa pengadopsian awal jam tangan pintar masih sebatas 10% dan gelang kesehatan sebanyak 19%.

Dari tiga negara yang menjadi tempat survei, Amerika Serikat memposisikan diri sebagai kawasan dengan pengguna jam tangan pintar dan gelang kesehatan terbanyak (12% dan 19%). Sedangkan Inggris (9%) dan Australia (7%) masing-masing berada di posisi kedua dan ketiga soal penggunaan jam tangan pintar.

Hanya saja dari segi penggunaan gelang pintar, Australia menyusul Inggris dengan total pengguna sebanyak 19% dan Inggris 15%.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini