Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gunakan 474 iPhone, Pabrik Like di Thailand Digeledah

Lely Maulida, Jurnalis · Selasa 13 Juni 2017 13:13 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 06 13 207 1714708 gunakan-474-iphone-pabrik-like-di-thailand-digeledah-F3tlj0K6Rd.jpg (Foto: YouTube)

JAKARTA – ‘Pabrik like’ merupakan usaha yang diragukan dan jarang diketahui, namun eksistensinya bergaung di internet dalam kehidupan sehari-hari pengguna. Seperti diketahui, perusahaan membayar bot untuk memberikan like, rating, komentar, dan lainnya pada sebuah konten untuk meningkatkan popularitas.

Kali ini, ditemukan di Thailand sebuah pabrik like yang menguak pandangan lain dalam industri bot. Menurut Bangkok Post, kepolisian dan tentara Thailand menyerbu sebuah rumah kontrakan di dekat perbatasan Kamboja.

Mereka menemukan sebuah pabrik like yang dimanfaatkan oleh tiga orang China. Wang Dong, Niu Bang, dan Ni Wenjin dikatakan memiliki rak logam yang terpasang di kontrakannya dengan ratusan kabel iPhone 5S, 5C, dan 4S yang dihubungkan ke monitor komputer.

Secara keseluruhan, jumlah perangkat di kontrakan tersebut mencapai 474 iPhone, 347.200 kartu SIM yang tak terpakai milik operator seluler Thailand, 10 komputer/laptop, dan sejumlah perangkat elektronik lainnya. Semua barang bukti tersebut dilaporkan disita oleh pihak berwajib.

Petugas awalnya mengira orang-orang itu mengoperasikan call center yang curang, namun para tersangka mengatakan bahwa mereka dibayar untuk mengoperasikan jaringan akun bot yang luas di WeChat. Menurut Post, ketiga pria itu mengatakan sebuah perusahaan China memasok telefon dan membayar mereka 150.000 baht per bulan atau sekira USD4.403 untuk meningkatkan keterlibatan artifisial pada WeChat untuk produk yang dijual secara online di China.

Operasi tersebut dilaporkan berkantor pusat di Thailand karena biaya penggunaan smartphone relatif murah.

Perkara bot WeChat bukanlah hal yang baru. Platform ini memiliki lebih dari 700 juta pengguna bulanan yang sebagian besar berada di China. Chatbot secara sah digunakan oleh perusahaan untuk berinteraksi dengan klien. Namun chatbot yang terlarang melancarkan spam, like, dan follow.

Bangkok Post mengatakan orang-orang itu ditangkap atas beberapa tuduhan termasuk perpanjangan visa mereka, bekerja tanpa izin, penggunaan SIM yang tak terdaftar, serta penyelundupan. Bekerja tanpa izin di Thailand dapat mengakibatkan hukuman penjara lima tahun atau denda sekira 2.000-100.000 baht (sekira USD 58-USD 2.936), atau bahkan keduanya.

Kepolisian setempat kini tengah menyelidiki bagaimana orang-orang tersebut dapat menyelundupkan begitu banyak smartphone ke negaranya serta memperoleh sejumlah banyak kartu SIM lokal. Demikian seperti dilansir The Verge, Selasa (13/6/2017).

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini