Para Ilmuwan Desak Studi soal Seks di Luar Angkasa

Dini Listiyani, Jurnalis · Kamis 15 Juni 2017, 01:03 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 06 14 56 1716214 para-ilmuwan-desak-studi-soal-seks-di-luar-angkasa-enmLZ8uADy.jpg (Foto: Daily Mail)

CALIFORNIA - Badan Antariksa di seluruh dunia bekerja untuk mengembangkan teknologi yang bisa membawa manusia lebih jauh dari sebelumnya dengan harapan suatu hari membangun koloni di bulan atau bahkan Mars.

Akan tetapi, jika penyelesaian jangka panjang menjadi tujuannya, para ahli mengatakan ada satu hal yang tak bisa dilupakan yakni seks. Selama diskusi panel baru-baru ini, seorang asisten profesor George Washington University menjelaskan bahwa reproduksi manusia merupakan isu krusial yang harus dihadapi namun sejauh ini masih kurang dipahami.

Menurut Kris Lehnhardt, asisten profesor di departemen pengobatan darurat di GW’s School of Medicine and Health Sciences topik soal seks di luar angkasa merupakan perhatian nyata.

Berbicara pada Mei untuk acara webcast The Atlantic’s ‘On the Launchpad: Return to Deep Space’, seorang pakar menjelaskan bahwa terdapat banyak hal yang masih perlu dipelajari tentang penerbangan antariksa manusia, termasuk pengaruhnya terhadap biologi dan gizi.

Akan tetapi, khususnya, cara kerja dan hasil potensial seks di luar angkasa sebagian besar tetap menjadi misteri. "Sesuatu yang sebenarnya tak kita ketahui adalah reproduksi manusia di luar angkasa," kata Lehnhardt yang dikutip dari Daily Mail, Kamis (15/6/2017).

"Tidak hanya bagaimana sistem reproduksi kita beradaptasi dengan lingkungan luang angkasa, jika kita berbicara tentang kolonisasi, ada komponen kunci untuk kolonisasi yang memungkinkannya, dan itu adalah memiliki bayi. Dan, ini adalah sesuatu yang terus terang kita tidak pernah belajar secara dramatis, karena ini tidak relevan sampai saat ini," lanjutnya.

"Tapi jika kita ingin menjadi spesies yang memiliki luang angkasa, dan kita ingin tinggal di luar angkasa secara permanen, ini adalah isu krusial yang harus kita hadapi, yang belum dipelajari sepenuhnya," terangnya.

Pada titik ini, para ilmuwan tidak yakin apa yang akan terjadi jika manusia bereproduksi di luar angkasa atau melahirkan di lingkungan luang angkasa. Tahun ini, para peneliti mengungkapkan bahwa mereka berhasil menggunakan sperma tikus beku kering yang pernah tinggal di International Space Station (ISS) selama sembilan bulan untuk melahirkan anak-anak yang sehat.

Meskipun hal ini menunjukkan bahwa reproduksi dapat terjadi bahkan di hadapan tingkat radiasi ekstrem di luar angkasa, keturunan yang dihasilkan bisa lahir dan dibawa kembali ke Bumi.

Para ahli menjelaskan, jika proses tersebut dilakukan di tempat lain, hasilnya bisa saja sangat berbeda. "Kami bahkan tidak tahu apakah bayi lahir di luar angkasa, apakah itu dalam microgravity atau di permukaan tubuh angkasa, kami tak tahu bagaimana perkembangannya," tutur Lehnhardt.

(din)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini