Ini Proses Terjadinya Petir saat Erupsi Gunung Berapi

Lely Maulida, Jurnalis · Jum'at 16 Juni 2017, 13:45 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 06 16 56 1717776 ini-proses-terjadinya-petir-saat-erupsi-gunung-berapi-UlguYpwCVq.jpg (Foto: NASA)

JAKARTA – Kilatan petir tak jarang menyertai semburan material yang diakibatkan oleh erupsi gunung berapi. Dikutip dari berbagai sumber, petir yang terjadi dalam fenomena ini diakibatkan oleh peran awan kepulan uap air, abu, debu, dan partikel vulkanik lain yang menyembur ke angkasa secara masif.

Awan terbentuk dari hasil penguapan yaitu pemanasan air permukaan oleh sinar matahari yang kemudian terbentuk awan yang menampung banyak partikel uap air, serta akan mengalami upstream akibat adanya arus konveksi ke atas.

Kemudian uap air tersebut akan berubah menjadi butiran es karena tingginya tekanan dan rendahnya temperatur. Saat jatuh, terjadi tumbukan antara butiran es yang jatuh dengan molekul yang ada pada awan lain yang menyebabkan terlepasnya elektron sehingga terjadi pemisahan muatan.

Elektron ikut jatuh bersama butiran es yang jatuh dan membentuk polarisasi negatif di bagian bawah, sedangkan bagian atas yang ditinggalkan elektron membentuk polarisasi positif. Akibatnya adalah pada awan terjadi polarisasi. Pada sebagian besar awan, bagian bawah yang dekat dengan tanah adalah negatif.

Muatan negatif ini kemudian menginduksi tanah yang netral untuk membentuk polarisasi positif. Adanya perbedaan muatan ini menghasilkan medan listrik dengan beda tegangan hingga 100 juta volt.

Petir vulkanik sendiri masih menjadi perdebatan karena kejadian ini kadang terjadi saat ada erupsi gunung berapi. Pada setiap kejadian menunjukkan kilatan petir mulai dan berakhir dalam kolom letusan dan masih diperdebatkan jenis perantara suatu massa yang dapat memisahkan partikel-partikel yang harus melalui proses potensial ionisasi.

Petir vulkanik tidak terjadi secara langsung meskipun di dalam kolom letusan yang berisi koleksi partikel abu kaca panas, uap dan gas bersama meletus ke atmosfer dengan banyak ukuran yang berbeda dari partikel abu. Karena sebelum terjadi petir, partikel harus terionisasi terlebih dulu, dengan memisahkan elektron yang terikat pada partikel tersebut dengan perantara energi potensial suatu massa.

Teori yang menjelaskan petir vulkanik juga terbilang banyak. Salah satunya menyebutkan bahwa adanya tabrakan partikel yang dikeluarkan saat erupsi, dapat mentransfer muatan satu sama lain dan berubah menjadi massa positif atau negatif.

Kemudian terjadi (ionisasi) pemisahan muatan dengan proses yang disebut aerodynamic sorting. Pemisahan muatan menjadi ion-ion, terjadi karena adanya potensial ionisasi antara awan-awan vulkanik.

Dengan adanya pemisahan antara partikel positif dan negatif, dapat memberikan saluran untuk aliran listrik. Saat itulah petir dapat terjadi. Para ahli vulkanologi percaya bahwa hal tersebut ada hubungannya dengan seberapa cepat partikel berukuran berbeda menetap.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini