Otak Menyukai Gambar Visual, Kenapa?

Dini Listiyani, Jurnalis · Jum'at 30 Juni 2017 03:05 WIB
https: img.okezone.com content 2017 06 23 56 1723464 otak-menyukai-gambar-visual-kenapa-13Gy2Ecm9X.jpg (Foto: Daily Mail)

SAN FRANCISCO - Otak manusia dikenal tak bisa dipercaya karena sering menemukan kenangan dan mengisi kesenjangan dalam pemahaman manusia.

Salah satu celah ini ada di bidang penglihatan manusia, karena memiliki titik-titik buta yang dipenuhi otak dengan informasi yang lengkap. Sejumlah ilusi optik memanfaatkan fenomena ini, menipu otak manusia dengan menempatkan bentuk secara langsung di titik buta.

Sekarang, sebuah penelitian baru menemukan bahwa otak manusia lebih menyukai penglihatan palsu untuk hal nyata. Ini menunjukkan bahwa manusia seharusnya kurang mempercayai indera.

Otak, menurut klaim para peneliti, menyukai gambar-gambar yang diciptakan meskipun mereka kebanyakan tak dapat diandalkan. Studi dari University of Osnabrück, Jerman menunjukkan bahwa ketika di antara dua objek visual yang identik, manusia secara mengejutkan cenderung menunjukkan bias terhadap informasi internal.

Jika otak memiliki preferensi ini dengan cara lain, kata Dr. Christoph Teufel dari Universitas Cardiff, mengatakan, ini menunjukkan bahwa manusia seharusnya kurang mempercayai indera.

'Persepsi tidak memberi kita representasi (sejati) dunia. Ini terkontaminasi oleh apa yang sudah kita ketahui," katanya seperti dikutip dari Daily Mail, Jumat (30/6/2017).

Untuk memahami dunia, manusia dan hewan perlu menggabungkan informasi dari berbagai sumber. Hal ini biasanya dilakukan sesuai dengan seberapa handal setiap informasi, tapi ini bisa berubah.

Hal ini dibuktikan dengan ilusi optik 'blind spot' yang menunjukkan bagaimana mata kita mengisi kesenjangan informasi. Caranya menyajikan serangkaian garis silang dengan titik-titik hitam di sudutnya. Namun, otak tak memungkinkan melihat semua dari 12 titik pada saat yang sama.

"Dalam situasi seperti blind spot, otak" mengisi " informasi yang hilang dari sekitarnya, sehingga tidak ada perbedaan nyata dalam apa yang kita lihat," kata rekan penulis studi Profesor Peter König seperti dikutip Daily Mail.

"Meskipun pengisian ini biasanya cukup akurat, ini sangat tidak dapat diandalkan karena tidak ada informasi aktual dari dunia nyata yang pernah sampai ke otak. Kami ingin mengetahui apakah kami biasanya menangani informasi yang terisi ini secara berbeda dengan informasi sensorik langsung yang sesungguhnya, atau apakah kami memperlakukannya sama," lanjutnya.

Untuk melakukan ini, Profesor König dan timnya meminta peserta studi untuk memilih di antara dua gambar visual bergaris yang ditampilkan pada mereka dengan menggunakan kacamata rana.

(din)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini