Mantap! Tak Hanya Indonesia, Negara Ini juga Blokir Telegram

Moch Prima Fauzi, Jurnalis · Senin 17 Juli 2017, 14:41 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 07 17 207 1738086 mantap-tak-hanya-indonesia-negara-ini-juga-blokir-telegram-BtR1EkwnbR.jpg (Foto: Android Pit)

JAKARTA - Pada Jumat 14 Juli 2017, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) memblokir akses Telegram melalui website baik itu pada handset mobile maupun desktop.

Kemkominfo beralasan bahwa Telegram memiliki saluran yang berisi propaganda terorisme, tindakan radikalisme, disturbing picture, informasi merakit bom, serta konten negatif lainnya yang melanggar Undang-Undang di Indonesia.

Meski demikian, Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang menindak tegas Telegram. Berdasarkan laporan Hongkong FP, China juga memblokir aplikasi yang dibuat oleh Nikolai dan Pavel Durov tersebut pada Juli 2015.

Pemblokiran itu dilakukan pada server yang terletak di kota Beijing, Shenzen, Mongolia bagian dalam, Heilongjiang, dan Yunnan. Menurut informasi, pemblokiran itu dilakukan karena Telegram digunakan untuk membantu pengacara hak asasi manusia dalam mengkritik pemerintah.

Telegram juga sempat mengalami kelumpuhan akibat serangan distributed denial of service (DDoS) yang menggangu layanan di kawasan Asia Tenggara, Oceania, dan Australia. Dalam keterangan resminya, Telegram mengaku bahwa serangan itu berasal dari kawasan Asia Timur.

Sementara di Iran, Telegram harus berurusan dengan pemerintah setempat karena dikhawatirkan menjadi tunggangan politik. Sebagaimana diketahui pengguna Telegram di Iran telah mencapai 20 juta orang sehingga layanan tersebut telah menjadi pengganti Twitter dan Facebook yang telah lebih dahulu diblokir.

Pemilik saluran diwajibkan untuk mengantongi izin pemerintah sebelum membuat tempat obrolan. Pemerintah Iran mengatakan bahwa tindakan itu dilakukan untuk memastikan keamanan negara. Sementara menurut pengguna dan pakar setempat, hal itu hanya dalih untuk menghalangi wacana politik.

Negara lain yang juga terancam dengan kehadiran Telegram ialah Rusia. Padahal, kedua pendiri Telegram, Nikolai dan Pavel Durov merupakan sosok berkebangsaan Rusia. Dilaporkan Engadget, Rusia mengancam akan memblokir Telegram jika perusahaan tersebut tak memberikan informasi tentang aplikasi perpesanan dan informasi perusahaan.

Pihak Rusia mengklaim Telegram telah digunakan oleh kelompok teroris untuk merencanakan serangan. Hal itu berkaca pada kasus teror pada April 2017 dengan bom bunuh diri.

CEO sekaligus pendiri Telegram, Pavel Durov, menolak keinginan Rusia dan mengatakan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran konstitusional. Menurutnya, meski Telegram dilarang di Rusia, masyarakat masih akan tetap menggunakan layanan enkripsi lainnya.

"Jika Anda ingin mengalahkan terorisme dengan memblokir sesuatu, Anda harus memblokir Internet," demikian kata Durov.

​

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini