Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mantap! Pabrik Foxconn di Amerika Bantu Pemangkasan Biaya Produksi Apple

Lely Maulida, Jurnalis · Jum'at 28 Juli 2017 20:33 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 07 28 207 1745937 mantap-pabrik-foxconn-di-amerika-bantu-pemangkasan-biaya-produksi-apple-7hYH7UNG4H.jpg (Foto: Reuters)

WASHINGTON – Foxconn akhirnya secara resmi mengumumkan rencana untuk membangun pabrik di wilayah Wisconsin, negara bagian Amerika Serikat (AS). Apple sebagai mitra Foxconn turut menyambut baik rencana perusahan asal Taiwan itu.

Menurut Apple, rencana Foxconn itu akan mendukung dua juta pekerjaan di AS. Pabrik Foxconn sendiri rencananya akan menampung 10.000 pekerjaan, yang turut membantu Apple menangkis ancaman tarif impor pada produk utamanya, iPhone.

Presiden Donald Trump dan Chairman Grup Teknologi Foxconn Terry Gou mengatakan dalam sebuah konferensi pers Gedung Putih belum lama ini bahwa pabrik tersebut pada tahap awal akan mempekerjakan sekira 3.000 orang, sebelum berkembang menjadi sebanyak 13.000 orang.

Dilansir Bloomberg, Jumat (28/7/2017), pabrik itu akan membuat panel display LCD untuk televisi dan layar komputer, yang tentunya tak mungkin membawa logo Apple. Investasi tersebut dapat membuat regulator pajak impor atas produk Foxconn tak ditujukan kepada Apple.


"Foxconn melakukan yang terbaik untuk mencoba mengatasi perang dagang dan mereka jelas bersikap strategis dalam hal investasi di Ryan's home district dan dengan demikian mencoba untuk mendapatkan niat baik," kata Mark Wu, asisten profesor di Harvard Law School yang melayani orld Economic Forum’s Global Future Council on Trade and Foreign Direct Investment.

Baca: Sah! Foxconn akan Bangun Pabrik di AS Senilai Rp133 Triliun

Sebelumnya Trump menargetkan Apple untuk mendorong perusahaannya membawa lebih banyak pekerjaan pabrik ke AS. Hal tersebut memicu kekhawatiran akan perang dagang dengan China, di mana produsen kontrak seperti Foxconn, Pegatron Corp dan Quanta Computer Inc merakit gadget yang dirancang oleh perusahaan teknologi AS.

“Saat ini kebijakan Trump adalah mencoba menciptakan lapangan kerja, dan mengancam pajak impor adalah cara untuk mendorong perusahaan membawa manufaktur ke AS,” kata Annabelle Hsu, seorang peneliti di IDC di Taiwan.

"Sekarang mereka telah berjanji untuk melakukannya, tidak perlu lagi mengeluarkan pajak semacam itu,” ujarnya.

Pembuatan iPhone lebih kompleks dibanding panel LCD, serta perakitannya sangat mengandalkan rantai pasokan yang luas di China. Hal itu membuat tarif impor menjadi risiko yang nyata karena tak mudah bagi Apple untuk meminta mitranya merakit iPhone di AS. IHS Markit memperkirakan bahwa produksi iPhone 7 berharga USD5 per handset di China, di mana biaya tenaga kerja sekira 10 kali lebih murah daripada di AS.

Sebanyak USD3 miliar insentif pemerintah negara bagian yang ditawarkan untuk memancing Foxconn ke AS, pada akhirnya dapat membawanya membangun fasilitas manufaktur lainnya. Kombinasi biaya pengiriman yang lebih rendah dan insentif akan lebih mengimbangi biaya tenaga kerja AS yang lebih tinggi, menurut Hsu IDC.

Foxconn sedang mempertimbangkan untuk membangun serangkaian pabrik lain yang akan menggunakan panel LCD buatan di Wisconsin untuk membuat layar televisi dan komputer, kata sumber kepada Bloomberg. Namun Apple tak memberikan komentar terkait mitranya tersebut.

Baca juga: Keren! Apple Akan Bangun Tiga Pabrik Megah di Amerika Serikat

Sejak Trump memimpin, Apple telah berjanji untuk menginvestasikan USD1 miliar pada manufaktur AS.

Pada Mei 2017, perusahaan tersebut menggelontorkan USD200 juta dari total investasi tersebut ke Corning Inc, yang memasok kaca untuk layar iPhone dan iPad. Apple mengatakan bahwa pihaknya mendukung dua juta pekerjaan di AS melalui pemasok dan App Store, serta menghabiskan USD50 miliar dengan lebih dari 9.000 pemasok AS pada tahun 2016.

Angka tersebut ditambah dengan investasi Foxconn, akan membantu CEO Apple Tim Cook berpendapat bahwa perusahaannya telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pekerjaan di AS, menurut Andrew Rose, seorang profesor ekonomi di University of California, Berkeley's Haas School of Business .

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini