CEO Telegram Temui Kominfo, Menkominfo: Telegram Akan Bikin Tim di Indonesia

Tachta Citra Elfira, Jurnalis · Selasa 01 Agustus 2017, 14:54 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 08 01 54 1747740 ceo-telegram-temui-kominfo-menkominfo-telegram-akan-bikin-tim-di-indonesia-YteelydLYe.jpg Menkominfo Rudiantara bersama CEO Telegram Pavel Durov (Foto: Tachta Citra Elfira/Okezone)

JAKARTA - Pavel Durov, bapak pembesut Telegram hari ini atau 1 Agustus 2017 mengunjungi kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) di Jakarta Pusat.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengungkapkan bahwa kunjungan Durov terkait penyelesaian perkara pemblokiran Telegram yang dilakukan oleh dirinya.

"Kami akan rapat untuk membicarakan SOP (Standar Operasional Prosedur) dalam penanganan konten-konten negatif yang berada di Telegram. Akan kita komunikasikan siapa lebih lanjut orangnya (perwakilan Telegram di Indonesia)," ujar Rudiantara saat ditemui di Gedung Kominfo, Jakarta Pusat, Selasa (1/8/2017).

Baca juga: Kisah Pavel Durov, 'Kabur' dari Rusia hingga Ciptakan Aplikasi Telegram

Pria yang kerap disapa Chief RA itu juga mengungkapkan jika semuanya sudah selesai, maka dirinya dan pihak-pihak terkait akan membuka blokir Telegram supaya bisa beroperasi kembali di Indonesia.

"Kalau semuanya sudah selesai, kita bisa cabut pemblokiran Telegram," tutup Chief RA.

Semuel A. Pangerapan Dirjen Aplikasi Informatika sebelumnya mengungkapkan bahwa pihaknya akan melakukan normalisasi jika, "Semua konten akan dipenuhi, apa yang ada di Indonesia ya diikuti. Kalau dia melanggar ya kita blokir, apalagi propaganda di website-nya, ini akan menjadi komunikasi yang intens".

Sebelumnya diketahui, Kominfo beserta lembaga terkait telah memblokir 11 DNS terkait dengan Telegram berbasis web sejak 14 Juli, namun pengguna smartphone masih dapat menggunakan aplikasi Telegram versi mobile.

Baca juga: Astaga! Ini Ternyata Alasan Teroris Senang Menggunakan Telegram

Menanggapi maraknya penyebaran konten negatif di jejaring sosial, Kominfo juga berencana untuk memanggil penyedia layanan sejenis seperti Facebook, Line, Google, WhatApp, dan Twitter.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini